BLOG ini hanyalah bualan-bualan semata, tidak berorientasi pada apapun. Mencoba Menulis hanyalah sebuah eksperimen seorang yang konyol untuk merepresentasikan otaknya yang kosong.

Selasa, 29 Januari 2008

CHE GUEVARA TELAH MATI

Kamu bernama Che, hanya Che. Begitulah kamu ingin dipanggil, tanpa embel-embel Guevara. Sampai sekarang saya masih tidak mengerti mengapa kamu ingin dipanggil Che. Padahal dalam lingkungan masyarakat Sunda tempat kamu dibesarkan nama Che terdengar asing. Orang Sunda lebih familiar dengan nama Cecep atau Cepot. Dan ketika dikritik oleh teman-temanmu, kamu tetap bersikukuh memakai nama Che.

Dulu penampilanmu sangat lusuh, khas seorang aktivis. Bandana merah bertuliskan revolusi serta kaos bergambar Che Guevara tak pernah absen melekat di tubuh ketika demonstrasi meledak di jalanan. Dulu Kau selalu berdiri di garda depan menolak kebijakan pemerintah yang menyengsarakan rakyat, dan juga berkoar koar berorasi meneriakkan kata anti kapitalisme atau sekedar berucap "Hanya ada satu kata: Lawan !"

Che, ingatkah Kau ketika bersitegang dengan ketua BEM se bandung Raya karena dia tak berani menerobos pagar betis aparat kepolisian. Tapi kau berani Che, bahkan kau bisa menerobos masuk gedung sate hanya untuk melempar telur busuk kepada anggota dewan.. Sungguh-sungguh sangat Che.

Kita adalah partner in crime Che. Berdua kita mengkritik mahasiswa mahasiswa yang sok aktivis, masuk himpunan mahasiswa, masuk BEM, atau menjadi anggota organisasi apalah tapi tak pernah beraksi di jalan. Kau mengatai mereka aktivis bencong sehingga kau dikucilkan dari pergaulan sosial kampus. Dan ingatkah Che ketika kita berdua masuk sebuah partai yang katanya berasaskan sosialis berbendera merah bergambar bintang. Menghadiri rapat-rapat rahasia mereka, demontrasi di jalanan tanpa embel-embel kampus, membakar ban bekas, melempar batu dan bom molotov, lalu dibalas gas air mata, pentungan dan tembakan petugas. Lalu akhirnya kita harus keluar dari partai tersebut karena ternyata sang petinggi partai menerima sokongan dana dari kapitalisme.

Che, kau adalah orang yang pertama kali mengenalkanku pada Marxisme, membebaniku dengan hal-hal sosialisme. Berdua kita duduk di kamar tidurmu yang pengap, menghisap rokok, ganja ditemani kopi dan alkohol sembari membicarakan keadaan negeri bodoh ini yang kita bela. Poster Che Guevara, Buku Pramoedya Ananta Toer, dan selebaran-selebaran berhaluan kiri adalah pernak-pernik kamar tidurmu. Kita lebih tertarik berdiskusi tema-tema politik, padahal kau kuliah di Teknik Informatika ITB dan aku di Administrasi Niaga, jelas pendidikan kita jauh dari yang namanya politik. Tapi kita sepakat untuk tidak sepakat pada kapitalisme.

Kini Che yang kukenal telah berubah 100%, selalu berbaju rapi, memakai dasi, duduk di ruang AC, bekerja pada perusahaan kapitalisme, memakai handphone communicator, makan di Mc donalds. Semua nyaris tak mengenalmu.

Kemanakah aktivis ideal yang kukenal itu? Kemanakah prajurit revolusi yang menentang kapitalisme? Kenapa kamu bisa berubah sedramatis itu? Kau hanya menjawab, ” Di era Global ini, Che sudah mati, kenapa harus memilih sosialisme yang jelas-jelas tidak bisa memberikan solusi hidup. ”Hidup adalah pilihan, dunia yang kita tempati ini bukanlah himpunan ideologi yang mesti dipertahankan”.

Aku tak bisa merubah sikapmu Che, karena dari dulu aku tahu kau keras kepala dan jauh lebih pintar dariku. Kini akupun juga mengikuti jejak langkahmu untuk meraih masa depan bersama badut-badut kapitalisme dan melupakan romantisme sosialisme. Tokoh panutan kita pun kini sudah berubah, bukan Che Guevara dan Tan Malaka lagi. Kau mengidolakan Bill Gates dan aku menyukai Robert T kiyosaki. Oh sungguh sangat kapitalis kita. Kadang saya berpikir bahwa munafik itu perlu, karena saya munafik.

Senin, 07 Januari 2008

Tidak Ada Tuhan di Dunia Maya ?

Ketika mengunjungi situs ajaib bernama Google, iseng-iseng saya mengetikkan tiga huruf S, E dan X. Ternyata terdapat 789.000.000 situs yang menampilkan kata SEX. Kemudian di mesin pencari ajaib ini juga saya mengetikkan kata ALLAH, dan ternyata hanya terdapat 40.000.000 situs yang menampilkan kata ALLAH. Karena terkejut dengan kenyataan ini saya kemudian mengganti kata ALLAH dengan TUHAN. Tapi yang saya dapat malah semakin sedikit hanya 5.380.000 situs yang menampilkan kata TUHAN, mungkin karena secara bahasa TUHAN tidak dikenal di seluruh dunia. Oleh karena itu saya mengganti kata TUHAN dengan GOD. Dan memang hasilnya jauh lebih memuaskan dibanding dengan kata ALLAH ataupun TUHAN, terdapat sebanyak 516.000.000 situs yang menampilkan kata GOD.

Hal diatas merupakan sebuah fakta yang tidak terbantahkan, bahwa Allah, Tuhan, atau GOD yang disembah bermilyar-milyar umat manusia ternyata telah dikalahkan di dunia maya oleh sebuah kata SEX. Sungguh menyedihkan, ternyata masyarakat dunia lebih mengenal SEX daripada Tuhan. Selamat datang di dunia maya ! Yah itulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan ini semua. Dunia yang benar-benar asing dengan pembenaran dan kebebasannya masing-masing. Situs – situs yang menampilkan kata SEX memang belum tentu mencerminkan sebuah situs pornografi, tapi setidaknya untuk orang-orang awam kata SEX pasti lebih menjurus kearah porno.

Saat ini Internet sudah berubah menjadi kebutuhan mendasar masyarakat dunia. Bagaimana tidak, seseorang di belahan kutub utara bisa berkomunikasi secara cepat dengan orang-orang di kutub selatan tanpa hambatan waktu yang lama. Portal informasi dapat diakses dengan mudah dan bebas dengan biaya yang murah pula. Karena internet juga orang tidak harus pergi keluar rumah hanya untuk mengecek saldo rekeningnya, cukup duduk di depan computer yang terhubung internet semua bisa dilakukan. Dengan adanya situs pertemanan seperti Friendster atau Myspace anda tidak perlu repot-repot berjumpa dengan teman (sosialisme tatap muka tidak dibutuhkan disini). Dengan Youtube Anda tidak perlu repot-repot datang ke konser idola Anda. Dengan Napster Anda hanya tinggal memilih lagu yang Anda suka tanpa harus memiliki albumnya. Dan di e-Bay Anda bisa belanja (Wanita panggilan juga ada) sesuka hati Anda dengan menggunakan kartu kredit orang lain tentunya. Sungguh hebat dan jahat!!!

Tapi karena Internet juga orang yang terlihat baik di dunia nyata dapat menjadi beringas di dunia maya. Pornografi, Perjudian, Pembajakan, Cybercrime lainnya sudah menjadi komoditas yang biasa bahkan sangat biasa di dunia maya. Semua berjalan bebas dan terorganisir tanpa hambatan dan aturan yang jelas. Sebuah situs porno bahkan bisa di hujat habis-habisan oleh penggunanya karena kurang porno. Tidak ada tuntutan secara hukum bagi seseorang yang melakukan tindakan asusila di ruang publik Internet. Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak orang di Indonesia yang mencuri menggunakan kartu kredit curian di Internet. Gosip, memojokan orang lain, surat kaleng, menjadi hal yang sangat biasa di Internet. Aparat terlihat impoten menghadapi kejahatan di dunia maya, tidak ada UU, PP, KUHP, yang dapat memojokan pelaku tindak tidak baik ini ke meja hijau - adakah meja hijau di Internet? Adakah cyberlaw? Tampaknya tidak Ada.

Betulkah ini pertanda kiamat? Lalu betulkah Tidak Ada Tuhan Di Dunia Maya? Tuhan memang tidak bermain Friendster dan Tuhan memang tidak menciptakan dunia maya, tapi Tuhan menciptakan manusia yang membuat Dunia Maya. Jadi semua kebaikan akan dibalas kebaikan dan kejahatan dibalas dengan kejahatan, semua hanya tinggal menunggu waktu. Jadi berbuat baiklah di dunia maya, karena berbuat baik cukup mudah di dunia maya. Justru dengan adanya Internet transfer ilmu pengetahuan harus lebih intensif, sehingga tidak terbatas pada pelajaran yang diadapat di bangku sekolah atau kuliah. Dan asal kita tahu sebenarnya Tuhan sudah menciptakan Dunia Maya jauh sebelum ada Dunia yang kita anggap Nyata ini, Dunia itu tidak dikatakan Internet tapi bernama Akhirat. Dan di Akhirat situs bernama Google bukanlah situs ajaib lagi melainkan hanyalah situs sampah alias SPAM.

Rabu, 26 Desember 2007

DUA EKOR SAPI DAN IDEOLOGI


Anda mempunyai dua ekor sapi. Dan apa yang akan terjadi dari Anda sangat tergantung dari ideologi yang berlaku atau ideologi yang Anda yakini betul, walaupun Anda tahu di dunia ini tak ada ideologi yang ideal.


Feodalisme: Anda punya dua ekor sapi dan penguasa akan mengambil sebagian susunya.

Sosialisme: Pemerintah akan mengambil sapi Anda, meletakkannya di kandang bersama-sama dengan sapi-sapi milik orang lain. Anda diharuskan memelihara sapi tersebut dan pemerintah akan memberi Anda susu sesuai kebutuhan.

Fasisme: Anda punya dua ekor sapi. Pemerintah membayar Anda untuk memeliharanya, kemudian menjual susunya kepada Anda.

Komunisme: Anda punya dua ekor sapi.Semua tetangga ikut memeliharanya dan susu yang dihasilkan dibagi rata.

Diktatorian: Anda punya dua ekor sapi. Pemerintah mengambil keduanya dan membunuh Anda.

Militerianisme: Pemerintah mengambil kedua sapi Anda dan memanggil Anda untuk mengikuti wajib militer.

Demokrasi: Pemerintah menjanjikan akan memberi dua ekor sapi jika Anda memilih kembali partainya. Ketika pemilu selesai, presiden terpilih dituduh terlibat ’sapi politik’dan media massa menyebutnya sapigate.

Kapitalisme: Anda punya dua ekor sapi. Anda jual seekor dan hasilnya dibelikan sapi jantan.

Environmentalisme: Anda mempunyai dua ekor sapi. Pemerintah melarang Anda mengambil susunya ataupun membunuh mereka.

Feminisme: Anda mempunyai dua ekor sapi. Mereka menikah dan mengadopsi anak sapi.

Soehartoisme : Anda mempunyai dua ekor sapi, disita negara dengan alasan demi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang pesat.

Golkarisme : Anda mempunyai dua ekor sapi, dicat kuning semuanyaoleh pemerintah…

BUMNisme : Anda mempunyai dua ekorsapi, tiap hari diperah susunya, tapi sapinya enggak pernah dikasih makan.

Cendananisme : Anda mempunyai dua ekor sapi, harus disita karena tidak pernah terbukti sapi itu milik anda, karena tidak ada surat buktinya.

Konglomeratisme : Anda mempunyai dua ekor sapi, besok-besok telah melahirkan kuda, kambing ,kodok, ikan, gurita dan sebagainya.

Korupsisme : Anda mempunyai dua ekor sapi, menurut catatan, seharusnya anda hanya punya dua kodoksaja!

Kolusisme : Anda mempunyai dua ekorsapi, bersamanya anda dapat mendapatkan2 banteng, 2 macan, 2 singa, 2 kuda.

Nepotisme : Anda mempunyai dua ekorsapi, teman-teman si sapi ternyatajadi milik anda juga semuanya!

Materialisme : Anda mempunyai dua ekor sapi dan tidak pernah menolak dibawa ke PI mall dan Plaza senayan.

Kanibalisme : Anda mempunyai dua ekor sapi, enggak pernah mau makan rumput,kecuali daging sapi!

Reformasisme: Anda mengira mempunyai dua ekor sapi, ternyata cuma ekornya saja!!

Narkobaisme : Anda mempunyai dua ekor sapi, ditukar dengan 1 gram shabu-shabu.

Munafikisme : Anda mempunyai dua ekorsapi, ternyata anda juga seekor sapi!!!

Provokatisme : Anda mempunyai dua ekor sapi, bisa menghasut anda untuk berbuat aneh-aneh.

Amerikanisme : Anda mempunyai dua ekor sapi, sangsi untuk sapi yang satu sangat berbeda dengan yang lainnya!

Romantisisme : Anda mempunyai dua ekor sapi, tiba-tiba minta dinikahkan saat itu juga

Selebritiisme : Anda mempunya dua ekor sapi yang doyan digossipin dan doyan kawin cerai.

Homosexisme : Dua ekor sapi Anda ternyata sapi Gay atau sapi Lesbi.

Pancasilaisme : Dua ekor sapi Anda ternyata ingin berubah menjadi burung Garuda.

Marxisme : Dua sapi Anda menolak untuk dipekerjakan sebagai buruh di sawah atau sebagai sapi perah. Mereka bahkan membuat buku Das Kapital. Kaum Sapi Sedunia Bersatulah.


Sumber : dari milis tetangga, yang gak tau namanya

Rabu, 19 Desember 2007

Akhirnya Dia Ketemu Kurt Cobain

Berteman ternyata tidak harus selalu dengan satu species yang sama. Karena terlalu sempit cakrawala otak ini jika terus menerus dijejali masalah-masalah kemanusian. Kemarin saya yang bingung tanpa tujuan tidak sengaja bertemu teman baru bersosok kambing. Tadinya sih kita cuman saling beradu pandang, tapi setelah lama dipandang kok mukanya mirip banget sama temen saya yah. Mukanya si kambing itu sungguh-sungguh memelas tapi agak sok cuek, mirip banget sama si Ucup Kampret.
Saya pun penasaran sama muka itu kambing, pas dideketin ternyata si kambing itu bernama "Yusuf Maulana Bin Haji Munir Abdullah" nama itu saya ketahui dari secarik karton yang dililitkan diantara lehernya. Astagfirullah saya baru sadar kalau nama asli si Ucup kampret itu sama persis dengan nama si kambing. Sebuah kebetulan yang tak terduga, dan ternyata ayah si kambing sudah naik haji. Obrolan pun berlanjut, saya cerita tentang pengalaman saya hingga terdampar di kota Jakarta ini sedangkan si kambing mendengarkan dengan seksama. Lalu saya bertanya " Suf Bagaimana kamu bisa sampai terdampar di Jakarta? ". Yusuf pun menjawab Mbeeeek Mbeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeekkkkkkkkkk" yang artinya kira-kira wah panjang sekali ceritanya kawan.

Saya sungguh tak berani menatapnya lama-lama karena saya tahu ada sebuah kesedihan terpancar dimatanya jauh berbeda dengan mata si ucup Kampret yang kelihatan senang. Jika dilihat dari dekat si Yusuf ini cukup ganteng untuk ukuran kambing cukup sesuai dengan namanya yang sama seperti nabi Yusuf A.S, wajahnya jauh lebih ganteng dari si Ucup Kampret. Dia sadar pada saat Idul Adha akan terjadi pembunuhan massal species kambing, dimana semua tubuhnya akan dimutilasi dan dibagikan kepada para penerima kurban untuk kemudian diolah menjadi sate atau gule. Melihat harapan hidupnya yang kritis, saya mencoba menenangkan si kambing supaya tidak bersedih. Dengan nada penuh kharismatik saya memberi pelajaran moral pada Yusuf si kambing malang, "Suf kalo ente ikhlas ente pasti masuk surga kok, tenang aja yah!". Si Yusuf menjawab "mbek bek bee mbek mbeeeeek mbekkkkkkkk ahiw", yang artinya kira-kira lu enak jadi manusia bisa ngomong gitu coba posisi lu jadi gue. Ya saya mengerti Suf, tapi di alam sana kamu bisa ketemu banyak orang terkenal, ada John lenon, Ian Curtis, Jim Morrisson, Sid Vicious, Jimmy Hendrix, Bob Marley, Fredy Mercury, Kurt Cobain, Marilyn Monroe, Chrisye, dan masih banyak lagi, Jarang-jarang loh bisa ketemu mereka. Dan Si Yusuf akhirnya mengembik lagi tanda setuju.

Tanpa saya duga-duga ternyata si Yusuf bilang, kamu mau dipesenin apa kalo saya sudah di alam sana. Tanpa pikir panjang saya menitipkan pesan kepada Yusuf.

Suf kalo ketemu Kurt Cobain, John Lennon, Ian Curtis, Jim Morrisson, Sid Vicious, Jimmy Hendrix, Bob Marley, Fredy Mercury jangan bilang Indonesia punya Kangen Band tapi bilang sama mereka kalo Indonesia punya The Tielman Brother's, mereka pasti hormat sama kamu.
Si Yusuf pun mengangguk tanda setuju.
Suf kalo ketemu Chrisye jangan bilang Fariz RM sama Ahmad Albar dipenjara, bisa nangis doi.
Trus kalo ketemu Alda tolong tanyain kapan mau keluarin album lagi.
Trus kalo ketemu Aidit tolong bilangin Soeharto belum mati, kasian dia nunggu-nunggu terus.
Bilangin juga ke Charles Darwin kalau teorinya udah runtuh diganti sama teori DNA. Semoga saja disana si Darwin gak bunuh diri karena frustasi.

Trus Klo......."Hmmmm Brurrrrrrrrrrrr, Mmmmmbeeeeeeekkkkkkkkkkkk mmmmmmbbbbbbbbek mbeeeeeeeeekkkkkkkkkkkkkk habrorrrrrrrr" tiba tiba si Yusuf memotong omongan saya, yang artinya kira kira " Hmmmmmmmmm Brur pesenan lu kok banyak amat, lu kira gue mau tamasya ke sana? habrorrrrrrrrr".

Ok saya sadar telah terlalu banyak merepotkannya, padahal dia sudah mau mati disembelih tukang jagal. Saya tak bisa bicara banyak, Saya cuman pesan "Suf, kalo udah nyampe sana jangan lupa kirim e-mail yah ato testi gw di friendster Ok!". Si Yusuf pun kembali mengembik tanda setuju tapi mukanya mengkerut tanda heran.

Hari kematiannya pun tiba, saya tak tega melepasnya. Hati saya sedih, hati Yusuf getar, tetapi hati Ucup kampret sang empunya kambing girang bukan main karena terbayang sate kambing yang lezat. Lalu ketika sang Jagal mengucapkan Lafadz BissmillahiAllahuakbar disertai tawa Ucup kampret pada saat itu juga Yusuf Maulana Bin Haji Munir Abdullah pergi ke akhirat dan mati dengan sukses.



Suf Akhirnya kamu mati juga, jangan lupa pesen saya yah!!!!!!

Dua Hari Kemudian Setelah Kematian Yusuf

Langit sedang mendung lalu hujan besar turun disertai geluduk yang sangat keras. Pada saat bersamaan muncul testimonial di Friendster saya, " Brurrr disini panas banget, Saya sudah ketemu Kurt Cobain, John Lennon, Ian Curtis, Jim Morrisson, Sid Vicious, Jimmy Hendrix, Bob Marley, dan Fredy Mercury. Ternyata semuanya lagi sibuk menyambut kedatanganmu. Gw tunggu yah Brurrr!!!!!!





Selasa, 18 Desember 2007

WARTEG dan WARKOP sebagai Gedung DPR baru

Warung Tegal adalah salah satu jenis usaha gastronomi yang menyediakan makanan dan minuman dengan harga terjangkau. Biasa juga disingkat Warteg, nama ini seolah sudah menjadi istilah generik untuk warung makan kelas menengah ke bawah di pinggir jalan, baik yang berada di kota Tegal maupun di tempat lain, baik yang dikelola oleh orang asal Tegal maupun dari daerah lain.

Warung tegal pada awalnya banyak dikelola oleh masyarakat dari tiga desa di Tegal yaitu warga desa Sidapurna, Sidakaton & Krandon, Kecamatan Dukuhturi Kabupaten Tegal. Mereka mengelola warung tegal secara bergiliran (antar keluarga dalam satu ikatan famili) setiap 3 s/d 4 bulan. Yang tidak mendapat giliran mengelola warung biasanya bertani di kampung halamannya. Pengelola warung tegal di Jakarta yang asli orang Tegal biasanya tergabung dalam "KOWARTEG" yaitu Koperasi Warung Tegal, sebuah organisasi yang bertujuan untuk saling merekatkan hubungan persaudaraan sesama Warteg.


Hidangan-hidangan di warteg pada umumnya bersifat sederhana dan tidak memerlukan peralatan dapur yang sangat lengkap. Nasi goreng dan mi instan hampir selalu dapat ditemui, demikian pula makanan ringan seperti pisang goreng, minuman seperti kopi, teh dan minuman ringan. Sedangkan Warkop alias Warung Kopi juga adalah salah satu jenis usaha kecil yang kebanyakan hanya menyediakan minuman kopi, indomie rebus, dan gorengan sebagai teman ngobrol.

Jangan harap mendapat tempat yang mewah, kursi yang nyaman, atau fasilitas Hotspot gratis, semua jelas tidak ada karena ini bukan restoran franchise layaknya Mc Donalds atau Starbuck's. Ditempat ini yang ada adalah kesederhanaan dan sapaan hangat sang pelayan yang selalu menanyakan " Makan Mas' nasinya satu atau setengah, lauknya apa Mas?" atau "Kopi Mas, kopi item atau pake susu?". Dan dengan harga merakyat Anda dapat membungkam cacing pita yang berteriak-teriak kelaparan di usus besar Anda. Semua fasilitas Warteg dan Warkop begitu merakyat membumi dan ala kadarnya.


Warteg dan Warkop adalah tempat paling demokratis di dunia ini. Semua orang berhak berargumen mengemukakan gagasannya tanpa takut ditangkap dengan undang-undang anti subversif, tanpa takut diintimidasi golongan-golongan. Banyak topik yang dibicarakan di kedua tempat ini mulai dari keluh kesah warga terhadap kinerja pemerintahan, bola, pendidikan, dan tentu saja seks. Bahkan konon pergerakan mahasiswa ketika menggulingkan rezim Tuan Besar Soeharto dimulai dari obrolan di warung kopi sekitar kampus. Semua yang hadir di perhelatan itu menjelma menjadi aktifis-aktifis yang terkadang menjadi lebih vokal dibanding dengan aktifis atau politikus sesungguhnya. Warteg dan warung kopi menjelma menjadi sebuah gedung dewan perwakilan rakyat dadakan karena sidang paripurna rutin diadakan di tempat ini. Tapi yang perlu dicatat di Gedung DPR dadakan ini tak ada Ketua atau wakil apalagi Fraksi-fraksi Partai.

Hanya saja Warung-warung kopi dan Warteg tidak juga mewakili masyarakat Indonesia yang heterogen. Manusia-manusia yang mengisi tempat ini kebanyakan adalah masyarakat-masyarakat menengah kebawah yang termarjinalkan dari demografi perekonomian bangsa ini. Namun setidaknya masyarakat marjinal ini mewakili pendapat sebagian besar bangsa Indonesia, karena pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia adalah masyarakat miskin. Seharusnya para petinggi negeri ini meluangkan waktunya barang sejam-dua jam di Warteg atau Warkop untuk mendengar aspirasi rakyat atau bahkan beradu argumen, sehingga dapat mewujudkan sebuah Good Governance.

Negeri ini sudah jengah dengan janji-janji kampanye, orang-orang sudah semakin kritis dan pintar. Maka pendekatan yang terbaik adalah berdialog secara dewasa tanpa mengumbar janji yang berlebihan. Dan Warteg atau Warkop bisa menjadi tempat proses demokrasi yang melahirkan wacana kehidupan yang lebih baik. Pada titik inilah warung kopi seolah menemukan momentumnya, yaitu tempat dimana demokrasi dengan karakternya yang khas telah tumbuh subur. Atau setidaknya tempat ini telah dijadikan alternative untuk melakukan rembesan demokrasi di negri ini melebihi fungsi Gedung DPR/MPR.

Rabu, 05 Desember 2007

THE TIELMAN BROTHER'S sejarah Rock n Roll Indonesia yang dilupakan bangsanya.

Ngefans sama The Beatles, Jimmy Hendrix, atau Rolling Stones! Sebuah hal yang wajar karena mereka-mereka itu memang musisi handal yang albumnya selalu dikenang sepanjang masa. Tapi jauh sebelum kejayaan mereka, Indonesia pernah mencatatkan sejarah mencetak band rock gokill pada akhir tahun 1960-an. Mereka bukan Koes Bersaudara ataupun Koesplus atau Pambers, mereka adalah The Tielman Brothers.
The Tielman Brothers adalah orang keturunan maluku yang besar Surabaya dan pindah ke Belanda untuk mengadu nasib. Mereka adalah kakak beradik dari pasangan Herman Tielman dan Flora Lorine Hess. Pasangan kakak beradik ini antara lain, Andy Tielman (lead guitar, vocals), Reggy Tielman (2nd lead guitar, vocals), Ponthon Tielman (double bass, vocals)Loulou Tielman (drums, vocals). Kebiasaan bermusik di keluarga yang kental lah yang membuat Tielman bersaudara ini sangat mahir dalam bermusik, dan menciptakan sound-sound yang aneh pada zamannya. Cerita The Tielman Brothers dimulai ketika di Surabaya 4 bersaudara Tielman kecil sering memainkan lagu-lagu daerah pada tahun 1945. Mereka tampil saat sang Ayah yang berprofesi sebagai komandan tentara KNIL sering mengajak rekan-rekannya berpesta di rumah. Tak disangka ternyata penampilan kakak beradik ini sangat memukau penonton yang hadir dalam pesta itu. Karena yang hadir dalam pesta itu notabenenya adalah pejabat-pejabat maka The Tielman Brother tidak kesulitan untuk tampil di berbagai pagelaran musik. Mereka pernah tampil di Timor-timur bahkan mereka pernah tampil di hadapan presiden Soekarno di Jakarta pada bulan Desember 1949. Saat itu mereka masih membawakan lagu-lagu dari Les Paul, Elvis Presley, Little Richard, Bill Haley, Fats Domino, Chuck Berry and Gene Vincent. Dan mulai saat itu mereka berkonsentrasi untuk memainkan rock n roll yang lebih garang.
Tahun 1957 mereka mendapat kesempatan untuk tour di Belanda, akhirnya The Tielman Brothers memutuskan untuk hijrah ke Belanda mengingat masa depannya akan lebih baik jika berada di negeri kincir angin itu. Penampilan pertama mereka adalah di Hotel De Schuur di Breda, dengan membawakan versi lain dari lagu Bye Bye Love nya The Everly Brothers. Setelah penampilan yang heboh di Belanda, The Tielman Brothers semakin dikenal di seluruh Belanda bahkan mereka sering diundang tampil di Belgia dan Jerman. Pada awal tahun 1960 The Tielman Brothers merilis 4 lagu ciptaan mereka sendiri, lagu itu antara lain My Maria, You're Still The One, Black Eyes, dan Rock Little Baby. Lagu ciptaan mereka ternyata banyak disukai oleh orang-orang Belanda. Orang-orang Belanda sering menyebut aliran musik The Tielman Brothers sebagai aliran Indorock. Orang Belanda menyebut Indorock karena kebanyakan band-band tersebut beranggotakan orang-orang Indonesia. Selain The Tielman Brothers ada juga Band Electric Johnny & his Skyrockets , The Crazy Strangers, The Crazy Rockers dan The Black Dynamites(Los Indonesios). Sayang nampaknya di Indonesia sendiri eksistensi mereka kurang dikenal, orang Indonesia lebih menyukai The Beatles, Jimmy Hendrik, dan Rolling Stones. Padahal sebelum The Beatles terkenal Paul Mc Cartney pernah menonton band-band Indorock dan dia sangat terinspirasi akan musik-musik band indorock. Lalu teknik permainan gitar sang dewa gitar Jimmy Hendrik sebenarnya sudah dimainkan secara apik oleh The Tielman Brothers. Jadi berbanggalah Indonesia pernah memiliki The Tielman Brothers. Untuk lebih jelas tentang Biografinya silahkan link ke http://indorock.pmouse.nl/tielmanbrothers1.htm nih gue kasih lihat video nya.

Rabu, 28 November 2007

PDIP NGEBAJAK LOGO PRODUK LUAR

Pembajakan adalah hal yang dilarang di Indonesia tapi juga hal yang sangat dilegalkan. Pemerintah yang terdiri dari elit politik nampaknya tidak serius akan hal ini, maklum sektor ini memberikan pendapatan yang cukup luar biasa bagi kantong-kantong mereka. Jika kita lihat ke Glodok anda akan menemukan sebuah pusat film negara, istana dongeng dunia, dari Hollywood hingga ke Iran. Tak guna antrian panjang, bermodal awal 5000 an (sekarang gw yang ngebajak lirik lagu the upstairs).
Ternyata di negeri kita tercinta ini pembajakan tidak hanya berkutat pada musik, film, piranti lunak, buku, atau parfum. Pembajakan terhadap logo atau lambang juga terjadi di negara ini. ironisnya yang melakukan pembajakan logo tersebut adalah sebuah partai politik besar yang banyak menempatkan kader-kadernya di pemerintahan Indonesia, baik itu legislatif, yudikatif, maupun eksekutif. Yah, PDI Perjuangan lah yang melakukan praktek bodoh ini, ternyata logo PDIP menjiplak karya otentik dari merek produk 662MOB sebuah perusahaan yang menjual alat-alat olahraga extrim asal luar negeri. Juru bicara 662MOB Charles Ruppert mengatakan "Pihaknya akan mengajukan tuntutan hukum kepada PDIP apabila terdapat unsur kesengajaan dalam pembuatan logo tersebut". Apabila kita melihat secara rinci terdapat kesamaan antara Logo PDIP dengan 662MOB itu, namun sampai saat ini belum ada pernyataan dari DPP PDIP mengenai kasus ini. Produk 662MOB pertama kali diperkenalkan di Canada, produk alat-alat olahraga ini sangat digemari di Amerika Serikat, Canada dan Eropa karena modelnya yang trendi, kualitas yang baik dan harga terjangkau. Masyarakat dapat melihat situs resmi 662MOB di www.662mob.com (sebagian text gw bajak dari forum detik.com).

Kalau lambang partai saja sudah plagiat alias ngebajak logo produk luar, bagaimana dengan kegiatan yang dilakukan para kadernya? apakah ngebajak duit rakyat!!! wah ntar gw takut disangka provokasi nih, pemilu kan sudah dekat. Jadi pembaca yang budiman saya harap kalian berlaku bijak aja yah, Ini kan Indonesia. Nih gw kasih gambarnya!!!



Selasa, 27 November 2007

CAPO THE CUSTOM TOYS

Udah lama gak posting ke blog sialan ini,mangkanya beritanya basi lah. Gw pergi ke Bandung pas hari sabtu menembus kemacetan sialan jalan tol Cikampek terus Hari minggu tanggal 11 november 2007 saya iseng jalan-jalan ke Common room di jalan Kyai Gede Utama di kota Bandung. niat awalnya sih cuma mau liat launching bukunya si kimung "My Self Scumbang Beyond Life and Death", sebuah buku biografi yang menceritakan kisah hidup begundal hardcore ugal-ugalan Ivan Burgerkill. Tapi bukan itu yang mau saya ceritakan, saya lebih tertarik sama pameran di Common Romm. Sebuah pameran Custom Toys bernama CAPO. Capo adalah sebuah designer toy lokal yang dikembangkan oleh AEWORX/NLS. Nama Capo diambil dari bahasa Spanyol yang berarti hood / tudung / capuchon. Hal itu disesuaikan dengan bentuk kepala Capo yang menyerupai sosok manusia yang mengenakan tudung kepala. Dan bentuk tudung itulah yang dijadikan identitas utama karakter mainan tersebut.



Gw cukup takjub melihat design-design mainan tersebut, sangat kraetif dan berwarna-warni serta mengambil tema yang bermacam-macam. Setelah tanya sini-tanya sana ternyata yang dipamerin di Common room ini kayaknya nggak bakal dijual sama sang designer, tapi kalau mau beli capo yang polos harganya cuma Rp 50.000,- kata si gustaff bisa beli di Common room. Untuk info lebih lanjut silahkan link ke http://capotoys.multiply.com, atau ke http://www.commonroom.info/. Nih gw kasih liat beberapa design capo lainnya, buatan pekerja seni lokal.

























Nah setelah lu liat beberapa contoh design si Capo ini, silahkan kalian beli Capo polosnya terus desain se Edan-Edannya. Trus tunjukkin design lu kepada sang kekasih. Dijamin .....klepek2.

Rabu, 14 November 2007

BERKACA DARI KLAIM MALAYSIA

Polemik tentang pengklaiman yang dilakukan oleh Malaysia beberapa waktu lalu masih belum menemukan titik terang. Lagu Rasa Sayange yang dipakai Malaysia dalam promosi wisatanya mengundang amarah orang-orang Indonesia karena lagu Rasa Sayange adalah lagu daerah Maluku. Selain lagu Rasa Sayange, Malaysia juga mengklaim kain batik, angklung, rendang, reog, congklak, dan beberapa kebudayaan Indonesia sebagai kebudayaan asli Malaysia. Hal ini belum ditambah persoalan lama tentang kepulauan Sipadan dan Ligitan yang sudah menjadi milik Malaysia serta kasus blok Ambalat.
Pengklaiman tersebut kontan memicu amarah bangsa Indonesia, karena menganggap Malaysia tidak pernah meminta ijin kepada Indonesia tentang penggunaan lagu tersebut dan juga sakit hati masalah lama. Media di Indonesia sangat gencar memberitakan pengklaiman ini, sehingga muncul sebuah gagasan untuk “Mengganyang Malaysia” seperti jaman Presiden Soekarno. Namun gagasan ini tak sepenuhnya disetujui pemerintah karena permasalahan ini harus diselesaikan dengan cara yang dingin.
Orang Indonesia yang tidak puas akan kondisi ini lantas menyerang berbagai situs Malaysia dengan virus, salah satu situs yang diserang adalah www.rasasayang.com.my. Dunia internet ramai dihiasi adu pendapat antara Indonesia-Malaysia, bahkan terkadang adu pendapat itu malah saling melecehkan. Orang Indonesia bilang bahwa Malaysia adalah Negara yang tidak berbudaya sehingga mengklaim budaya lain. Lalu Malaysia dituding sangat rakus dan diskriminatif, sehingga orang Indonesia memplesetkan Malaysia sebagai Malingsia. Seperti tak mau kalah orang Malaysia juga mengejek-ejek Indonesia sebagai Negara miskin bodoh yang menganggap masalah remeh seperti ini sebagai masalah besar sedangkan masalah seperti korupsi seperti dilupakan. Bahkan orang Malaysia menyebut Indonesia sebagai Indonlacur, karena banyak mengirim wanita ke banyak Negara sebagai pelacur.
Adu tuding ini malah semakin meruncingkan permasalahan yang ada sehingga terkadang menjadi keluar dari masalah inti. Namun pada hari selasa tanggal 13 november 2007 Malaysia mengakui secara defacto bahwa lagu rasa sayange sebagai lagu dari Indonesia. Pernyataan ini disampaikan oleh menteri kebudayaan Malaysia Dr Rais Yatim pada pertemuan dengan mentri kebudayaan Indonesia Jaro Wacik. Semoga saja pengakuan secara de facto Malaysia ini bisa mengakhiri problematika yang ada.
Tapi ada sebuah pelajaran yang dapat kita ambil dari pengklaiman Malaysia terhadap kebudayaan Indonesia, bahwa sebagai bangsa yang memiliki banyak kebudayaan sepatutnya Indonesia menghargai kebudayaan yang dimiliki dan melestarikannya. Masyarakat kita juga cenderung terbelenggu pada kebanggaan pada budaya luar khususnya budaya barat seakan kita tak pernah tahu budaya sendiri, padahal orang barat justru sangat bangga akan budaya kita. Sebagai contoh adalah Angklung, di Malaysia, Belanda, dan Kanada Angklung mendapat respon yang sangat bagus sehingga anak-anak di Negara tersebut diajarkan bagaimana cara memainkan angklung. Dan yang paling mencengangkan bahwa di Malaysia musik Angklung sudah menjadi trend musik baru bagi para kaum mudanya. Kaum muda di Malaysia tidak canggung memainkan angklung di jalanan atau berbagai festival di Malaysia.
Bangsa Indonesia sangat marah besar ketika hasil karyanya diklaim orang lain dan dibajak orang lain. Sungguh sebuah ironi karena bangsa pembajak terbesar di dunia bisa marah ketika hasil karyanya dibajak. Apa mungkin ini balasan Tuhan kepada bangsa pembajak, sehingga Dia mentakdirkan orang asing membajak karya cipta bangsa Indonesia. Inilah yang dirasakan para pencipta karya dan pemilik hak cipta, sedih sekaligus marah besar. Mungkin ini penyebab bangsa asing tidak mau memihak Indonesia atas Klaim Malaysia terhadap lagu Rasa Sayange, karena mereka merasa sakit hati produknya banyak dibajak di Indonesia. Apa sih yang tidak dibajak di Indonesia, musik, film, buku, software, parfum, pakaian, semua dibajak dengan sukses. Saya tidak menyalahkan sepenuhnya pembajakan di negeri ini karena memang negeri ini belum mampu membeli produk asli yang mahal harganya. Tapi setidaknya kita juga bisa bersikap dingin dan tidak munafik dan lebih menitikberatkan pada persoalan yang lebih fundamental di negeri ini..
Lalu bagaimana mencitrakan Indonesia yang berbudaya? Sulit menjawabnya. Mungkin seharusnya yang menjadi pertanyaan adalah mengapa bangsa asing lebih mengenal Malaysia dibanding Indonesia atau lebih mengenal Bali daripada Indonesia. Pertama adalah promosi pariwisata Indonesia di luar negeri sangat minim jika tidak boleh dikatakan nothing. Malaysia yang sangat gencar dengan branding “Trully Asia” nya tentu lebih dikenal di luar negeri. Alasan kedua adalah keengganan sebagian besar masyarakat Indonesia untuk melestarikan warisan budaya bangsanya sehingga wisatawan asing tidak tertarik untuk datang ke Indonesia, karena tidak ada hal yang unik. Sejauh yang saya tahu hanya di Bali lah orang dapat merasakan pengaruh kental budaya setempat tanpa mati dibunuh budaya asing. Dan alasan terakhir adalah kondisi keamanan dan sosial politik Indonesia yang tidak stabil sehingga wisatawan asing takut berkunjung ke Indonesia. Sebuah pekerjaan yang cukup berat dan konsistensi yang tinggi, tapi bisa dilakukan bila semua warga Indonesia konsen akan hal ini.

Jumat, 02 November 2007

BORING = ZERO

Menghabiskan waktu dengan berdiam diri tanpa berbuat apapun kadang menjadi hal yang sangat membosankan. Tapi dengan sedikit kreatifitas maka anda bisa menikmati liburan anda dengan hati yang riang.
Beberapa tips agar liburan menyenangkan terutama untuk anda yang kesepian dan hidup tanpa perencanaan.
1. Cobalah untuk mengumpulkan kotoran hidung, mata, telinga, dan tenggorokan
lalu kumpulkan di suatu tempat. Kemudian buatlah lukisan dari kotoran tersebut.
Jika butuh warna kuning anda tentu tahu dimana mendapatkannya.

2. Cari kecoa terdekat yang Anda temui. Ambil kecoa tersebut kemudian balikkan
tubuhnya. Dan nikmati sensasi perjuangan sang kecoa melawan kejahatan Anda.

3. Jika masih bosan, keluarlah dari kamar Anda. Karena sekarang musim hujan
silahkan berhujan-hujannan seperti anak kecil terus kencinglah di celana Anda.
Niscaya rasa dingin bercampur hangat akan menyambangi tubuh Anda.percayalah!

4. Kalau masih bosan juga silahkan cium aroma ketiak Anda, hisap dalam-dalam
seperti menghisap ganja. rasakan sensasinya!!! dahsyat

5. Jika masih bosan juga, hmmm silahkan berdiri di tengah perempatan jalan
tanpa memakai celana. niscaya Anda akan merasakan perhatian yang berlebih
dari ratusan orang yang mengerubungi Anda. Dan ketika mereka muntah-muntah
kumpulkan muntahan mereka lalu telan.

Inilah cara-cara mengatasi kebosanan tanpa harus melanggar aturan pemerintah. Biaya yang dikeluarkan sangat murah.......SELAMAT MENCOBA!!!!!

Minggu, 21 Oktober 2007

Secangkir Kopi Rindu

Secangkir Kopi untuk sebuah perayaan adalah cukup!
Bukan ingin mengelak dari kebiasaan masyarakat
Bersukacita menyambut kebebasan setan yang terbelenggu
Berpesta dengan ketupat, opor ayam, dan sambal goreng Ati
Secangkir Kopi nampaknya sudah cukup sebagai pengganti
Pengganti Kerinduan pada Keluarga.
Aku Tidak Pulang
Pulang ke tempat dimana raga dibesarkan
Dan di pedalaman yang penuh gedung tinggi
Aku duduk terdiam, merenung
dan kembali menengguk Kopi
Karena Aku Tidak Pulang.

-van- (Saat Perayaan Suci)

Sabtu, 13 Oktober 2007

From Hell to Bandung 2

Malam menjelang pagi, saat orang-orang masih tertidur dengan selimutnya yang tebal atau mungkin selimutnya yang hidup sebagian jiwa sudah berkeliaran di jalanan. Jiwa-jiwa yang haus akan kerinduan pada kampung halaman dan indahnya masa lalu. Dan dengan rasa haus itu mereka semakin bernafsu untuk sebuah tujuan, “Pulang”. Suatu hal yang bisa dirasakan paling tidak setahun sekali, tepatnya pada saat perayaan suci.

Kebiasaan serta budaya lah yang membuat jiwa-jiwa tersebut mempunyai tujuan yang sama saat perayaan suci. Dan sebuah konsekuensi yang harus diambil adalah kesengsaraan yang mau tidak mau harus dimaklumi. Jiwa-jiwa harus rela berdesak-desakan terhimpit dalam perjalanan atau membayar harga yang lebih mahal untuk sebuah kenyamanan. Tak peduli penjajah bangsa menaikkan ongkos pulang seudele dewe, jiwa-jiwa tetap kokoh pada pendiriannya. Penjajah pun tertawa mendapat keuntungan besar walaupun mendermakan kesengsaraan pada jiwa-jiwa yang ingin pulang.

Pergerakan jiwa mulai mencapai puncaknya pada tiga hari sebelum perayaan suci. Pergerakan yang akan memakan banyak waktu, tenaga, biaya, bahkan nyawa. Pergerakan dari neraka jahanam ini biasanya akan berakhir kira-kira seminggu setelah perayaan suci, karena pada saat itu jiwa-jiwa sudah kembali bekerja pada pos mereka masing-masing. Tapi satu hal yang positif dari perjalanan ini adalah karena adanya transformasi kekayaan dari kota ke pedesaan. orang-orang desa yang kebanyakan selama setahun harus hidup susah, dalam satu hari perayaan suci mereka bisa berbahagia. Dan mau tidak mau kita harus sadar bahwa transformasi ini hanya bersifat temporary karena setelah dahaga jiwa-jiwa yang haus terpuaskan, mereka akan pergi lagi ke perantauan lalu kembali setahun kemudian jika mampu.

Perjalanan ke timur adalah perjalanan paling diminati oleh banyak jiwa di Jakarta. Mungkin di timur jauh sana banyak surga-surga yang menanti mereka dengan hati yang terbuka. Surga-surga itu juga sudah siap menerima sampah ibukota yang sudah menjadi pribadi-pribadi yang aneh. Rute Anyer-Panarukan adalah rute favorit setiap jiwa yang akan pulang, namun beberapa ruas jalan buatan Tuan Besar Daendels ini sudah tidak terpakai karena digantikan jalan tol buatan Tuan Besar Soeharto. Tol Cikampek adalah salah satu penghubung jiwa-jiwa sunyi itu, tol yang membentang sepanjang 80 km dari timur Jakarta hingga Cikampek dimana setiap detiknya dipastikan ada 1 atau 2 kendaraan melintas. Dan berkat kecerdasan intelektual kaum kapital, jalan tol ini sengaja dinaikkan tarifnya sebulan sebelum perayaan suci sehingga pada saatnya nanti pundi-pundi rupiah akan bekerja untuk mereka.

Sebuah ironi yang didapat ketika semua kenaikan tarif tidak berimbas pada kenaikan kualitas. Lagi-lagi kemakluman tanpa batas harus dilakukan oleh jiwa-jiwa yang haus. Antara Karawang-Bekasi kembali harus menjadi saksi sejarah. Bukan penembakan pasukan republik oleh tentara NICA, tapi penyengsaraan rakyat oleh republik. Kesengsaraan karena macet, tabrakan, dan kematian seolah sudah menjadi agenda tahunan yang selalu ditingkatkan. Perjalanan yang seharusnya ditempuh tanpa hambatan harus dilalui dengan ujian kesabaran. Delapan puluh kilometer harus ditempuh dalam waktu 6 Jam adalah kegagalan besar jalan tol.

Bandung yang jaraknya tidak terlalu jauh dari “The Hell” seharusnya bisa ditempuh dalam waktu singkat, namun karena ketidaksiapan pemerintah dalam menghadapi event tahunan ini maka perjalanan ke Bandung harus ditempuh dalam waktu 7 jam. Dan dengan semangat juang akhirnya kesengsaraan di tol Cikampek bisa dikalahkan. Kekalahan mutlak ini harus dibayar dengan darah Dirjen Dinas Perhubungan, JasaMarga, Polisi, DPR, dan Presiden. Darah segar mereka nampaknya akan menghilangkan dahaga jiwa-jiwa yang kehausan, vendetta ini dihalalkan untuk kaum yang disengsarakan.

Perayaan suci itu akhirnya tiba, namun tidak bersamaan karena beberapa golongan punya perhitungan bulan masing-masing. Muhammadiyah hari Jum’at dan sisanya hari Sabtu. Perbedaan ini bukan masalah untuk saya, justru karena perbedaan ini dunia menjadi lebih berwarna dan indah. Perjalanan yang penuh penderitaan ini akan terasa nikmat ketika jiwa-jiwa yang haus berhasil menemui surganya masing-masing dengan selamat. Perjalanan ini seperti onani konyol, jiwa-jiwa dipaksa menikmati persetubuhan fiksi dengan kenikmatan orgasme yang serba tanggung. Dan jika itu adanya, maka saya termasuk jiwa-jiwa yang beronani pada perayaan suci.

***

Sabtu, 06 Oktober 2007

Percakapan Penjahat Idealis (sundanese Version)

Di Sabtu yang cerah tanggal 6 Oktober 2007, sehari setelah ulang tahun ABRI (RIP).

Obrolan Antara Bandung dan Jakarta


[10:15] ivanhadi_p: HARI SABTU LEMBUR WAE YEUH !
[10:15] askarinayualia: heu euh..!!
[10:16] ivanhadi_p: kejar setoran?
[10:16] askarinayualia: emg asup gawe..
[10:17] ivanhadi_p: HAHAHA Perusahaan maneh jeung urang sarua berarti!
[10:17] ivanhadi_p: kapitalis YAHUDI
[10:17] askarinayualia: iyup..!!!
[10:17] askarinayualia:
[10:18] ivanhadi_p: Libur lebaran Mulai Iraha Yu?
[10:18] askarinayualia: 12-15
[10:19] ivanhadi_p: ANJRIT SARUA Urang OGE. teu seubeuh uy
[10:20] askarinayualia: pastinya..
[10:20] ivanhadi_p: pegawe negri mah nepi ka 2 minggu
[10:20] askarinayualia: heu-euh..
[10:22] ivanhadi_p: btw LIPI karek buka lowongan jadi PNS, rek ngilu moal
[10:22] askarinayualia: heu-euh..
[10:22] askarinayualia: urg ge rek register ayeuna
[10:22] askarinayualia: eh tapi emg gawe na na2onan..?
[10:22] askarinayualia: hehe
[10:23] ivanhadi_p: nya kikituan weh pegawe negeri mah CICING tapi Dibayar
[10:23] askarinayualia: maneh eudeuk?
[10:24] ivanhadi_p: urang geus register tinggal cetak ngan eweuh print berwarna na
[10:25] askarinayualia: ah ur g geerk sakeudeung deui ah
[10:25] askarinayualia: kaburu si bos datang..!
[10:25] askarinayualia:
[10:26] ivanhadi_p: emang kunaon, maneh teu meunang kaluar ?
[10:27] askarinayualia: henteu,,
[10:27] askarinayualia: etika weh..
[10:28] ivanhadi_p: ah ngomong weh teu meunang kaluar ku si bosna nya? kan udah terlanjur sayang sama kamu tuh
[10:28] askarinayualia: hihi
[10:28] askarinayualia: ah kau..!!:">
[10:29] ivanhadi_p: btw eta lipi kira2 ditempatkeunna di luar jawa teu nya?
[10:30] askarinayualia: naha kitu..?
[10:37] ivanhadi_p: mun di luar jawa mah bedo! daek di tempatkeun di leuweung?
[10:44] askarinayualia: enya oge nya..
[10:45] ivanhadi_p: eh pagawe negeri lulusan D3 gajina sabaraha?
[10:45] askarinayualia: tah eta nu urang teu nyaho
[10:45] ivanhadi_p: mun leutik ge nanaonan atuh kacape cape daftar
[10:48] askarinayualia: enya nanya ka saha atuh nya?
[10:48] ivanhadi_p: ari bokap ente lainna pegawe negri?
[10:48] askarinayualia: lain
[10:48] askarinayualia: BUMN
[10:49] ivanhadi_p: oh... BUMN jeung Pegawai negeri sarua teu nya gajina?
[10:50] askarinayualia: sigana sih henteu..
[10:50] ivanhadi_p: Bingung urang ge uy
[10:51] ivanhadi_p: di dieu gaji lumayan tapi kontrak, bisa dibuang kapan saja
[10:52] ivanhadi_p: maneh kumaha yakin jadi pns?
[10:53] askarinayualia: tah eta teuing tah
[10:53] askarinayualia: maneh geus maca perjanjian na?
[10:53] askarinayualia: lamun geus lulus kabeh proses seleksi trus ngundurkeun diri beunang denda 10jt bo..!!
[10:54] ivanhadi_p: yang gitu mah bisa diatur
[10:54] askarinayualia: trus kan hrs bersedia ditempatkan di seluruh wil NKRI
[10:55] ivanhadi_p: nah itu yang ga bisa diatur!
[10:55] ivanhadi_p: kumaha tah?
[10:55] askarinayualia: bimbang..!!
[10:55] askarinayualia: :-/
[10:56] ivanhadi_p: bimbang sekaligus hayang....
[10:56] askarinayualia: enya..
[10:57] ivanhadi_p: dipikir-pikir naon atuh ngeunahna jadi pegawai ngeri?
[11:01] askarinayualia: masa kerja sudah jelas
[11:01] askarinayualia: tunjangan jg..
[11:01] askarinayualia: dijamin ku pamarentah
[11:02] askarinayualia: tapi pasti ditempatkeun di luar kota heula da
[11:02] ivanhadi_p: tunjanganna make duit rakyat nya?
[11:02] ivanhadi_p: dosa teu sih ngalebok duit rakyat? trus gawe ngan saukur cicing!
[11:03] askarinayualia: nah eta nu jadi pemikiran idealis urg ti baheula
[11:03] askarinayualia: urg teu hayang jd PNS
[11:03] askarinayualia: tapi aya kesempatan kieu asa jadi kabita
[11:04] ivanhadi_p: sama........
[11:04] ivanhadi_p: idealis selalu kalah oleh masalah perut, masalah klassix

[11:12] ivanhadi_p: mau jadi idealis atau.........?


NB : To Askarina Ayu Alia, maaf telah mempublikasikan obrolan kita tanpa seijin kamu.

I'm sorry emotion tidak tertampil maklum bego teknologi.

From Hell to Bandung 1

Malam minggu yang cukup lenggang di Jakarta, tak seperti biasanya padat oleh kendaraan dan polusi, polusi lalu lintas. Perjalanan dari Grogol ke Bandung cukup cepat hanya 3 jam , dapat menghemat waktu sekitar 1 jam dari biasanya (Hah Are you kidding). Naik bis Mayasari yang murah dari Grogol ke arah Cawang memakan waktu sekitar 45 menit. Situasi bis cukup menjengkelkan sangat sesak, panas, dan bis banyak ngetem. Tapi itulah fasilitas yang didapat jika hanya membayar 2500 perak. Transportasi di Indonesia memang perlu banyak perubahan terutama dalam hal kenyamanan.

Sampai di Cawang menunggu bis dari kampung rambutan ke Leuwipanjang. Cawang memang menjadi terminal bayangan di Jakarta karena hampir semua angkutan umum dari dan menuju kampung rambutan mampir disini. Hanya dua menit bis yang dinanti telah tiba, suasananya kosong mungkin karena sudah banyak orang yang pergi ke Bandung sehari sebelumnya. Sebenarnya banyak pilihan armada selain bis untuk menuju Bandung dari Jakarta, mulai dari Travel yang menjamur, Kereta Api, dan Pesawat terbang.

Semenjak dibangunnya tol Cipularang pada tahun 2005, kereta api nampaknya bukan pilihan utama, karena waktu tempuhnya lama ditambah sering terjadi kecelakaan di moda transportasi ini. Bis menjadi moda transportasi yang cukup murah namun juga memiliki kelemahan karena bis sering ngetem seenaknya untuk cari penumpang, jadi waktu tempuhnya sama saja dengan kereta, lama. Travel nampaknya menjadi pilihan yang cukup diminati karena selain jarang ngetem, waktu tempuh yang cukup cepat harganya pun cukup bersaing tidak terlalu mahal. Alternatif terakhir adalah pesawat terbang, namun terlalu mahal dan terlalu cepat jika harus menggunakan pesawat ke Bandung, perjalanan menjadi tidak menyenangkan. Dan pilihan saya tetap menggunakan bis, karena selain murah rumah saya cukup dekat dari terminal Leuwipanjang. Waktu tempuh bukan masalah.

Bis mulai berjalan lambat saat memasuki tol Cikampek. Kendaraan besar merajai jalanan tol yang sempit sedangkan mobil-mobil kecil menyalip satu persatu The Big Truck hingga menembus bahu jalan dengan kecepatan yang sulit dipercaya. Resiko mati adalah harga yang harus dibayar dalam perjalan ke timur ini. Perjalanan dari neraka ke Bandung. Bis yang ditumpangi tak henti-hentinya menyetel vcd dangdut yang suaranya nggak karuan dan menampilkan goyang erotis tapi tidak membangkitkan nafsu, melainkan menjijikan. Tidur adalah pilihan terbaik namun musik itu terus mengganggu. Saya pikir musik itu adalah kesukaan sang supir, Dasar supir cabul.

Di sekitar Cikarang yang penuh dengan pemandangan pabrik, bis sudah berjalan cepat mampu berlari hingga 80 km/ jam mungkin karena sang diesel sudah mencapai titik panasnya atau jalanan yang memang lowong. Di pinggir tol juga nampak jejeran truk-truk yang sedang beristirahat atau sang supir hanya sekedar bersetubuh melepaskan hasrat pada pelacur-pelacur jalanan. Ah hanya sekedar dugaan, tak semua supir truk berbuat seperti itu karena yang tampak hanyalah truk-truk yang sedang diperbaiki komponennya.

Perlahan tapi pasti bis melaju menuju tol Cipularang. Jalan tol sudah mulai tidak enak dikendarai karena permukaannya tidak rata. Jalan tol ini memang baru tapi sangat jauh berbeda kualitasnya bila dibandingkan dengan tol Cikampek, sangat buruk. Usut punya usut jalan tol tersebut dibuat oleh kontraktor lokal atau lebih tepatnya pemerintah (PT Adhi Karya dan Waskita) dan juga dibuat dengan terburu-buru karena mengejar deadline untuk Konferensi Asia Afrika ke 50 di Bandung pada tahun 2005, jadi kualitas pengerjaan mulai diabaikan. Hal ini terbukti dengan beberapa kali amblasnya ruas tol ini, terutama di km 91-93 atau di sekitar Pasirhonje, Sukatani Purwakarta. Jalur itu rawan karena itu zona kerentanan tanah tinggi. Jalur itu, melintas di atas formasi Jatiluhur yang batuannya berupa batu lempung. ''Batu lempung itu jika kena air maka akan mengembang. Sehingga, menyebabkan badan jalan di atasnya ambles, retak-retak, atau bergelombang''. Cara yang ditempuh untuk mengatasi amblesan jalan itu dengan cut and fill tanah, pembuatan tiang pancang, atau pembuatan jalan layang. Namun kontraktor cenderung mengabaikan kondisi ini, mungkin juga karena alasan biaya.

Dua jam setelah perjalanan, bis mulai memasuki wilayah Padalarang. Karena jalan tol dibuat diatas bukit-bukit maka terlihat gemerlap lampu-lampu yang berkilauan di Padalarang. Suasana malam yang sepi mendadak terasa ramai dengan kilauan cahaya, sama halnya dengan pasar malam. Bis yang ditumpangi tidak langsung menuju Bandung namun singgah sejenak di Padalarang untuk menurunkan penumpang yang berdomisili disana.

Bis yang ditumpangi kembali masuk ke dalam tol untuk menuju Bandung namun berputar arah dulu di Kota Baru Parahyangan. Kota Baru Parahyangan adalah sebuah komplek hunian mewah yang serba lengkap di daerah Padalarang. Didalamnya terdapat sekolah, universitas, rumah sakit, dan pusat perbelanjaan. Sebuah hunian yang nyaman dan mahal serta masyarakatnya yang sudah pasti individualis.

Reklame-reklame pusat perbelanjaan, Factory Outlet, restoran dan hotel mulai menunjukkan taringnya di jalan tol. Target mereka adalah orang-orang kaya yang singgah ke Bandung terutama dari Jakarta. Reklame itu mulai terlihat seperti sampah dan mengganggu pemandangan yang indah di kota ini. Tapi yang membuat sesak adalah VCD dangdut cabul yang disetel si Supir belum juga dihentikan. Gila! Mungkin si supir punya banyak stock VCD cabul.

Wangi hujan sudah tercium ketika kaki menginjak bumi. Wangi yang sudah lama tak tercium sejak berhijrah ke neraka Jakarta. Dan suara orang-orang yang dulu kukenal sayup sayup memanggil namaku. Dengan senyuman tanda puas perjalanan dari neraka kuakhiri di sebuah rumah sederhana, rumah di perempatan gang kecil yang hanya muat dimasuki satu mobil, rumah dimana aku dibesarkan dengan hati.

Selasa, 02 Oktober 2007

”Maaf Saya Bukan Penggemar Ustadz favorit Anda.

Saya selalu melihat bulan puasa adalah bulan euforia, sama seperti bulan Agustus yang menjadi euforianya nasionalisme. Saya selalu melihat kemunafikan membabi buta dan ayat-ayat Tuhan dijadikan komoditi. Komoditi yang menggiurkan seperti CPO dunia yang tak ada habis-habisnya. Maka secara hukum ekonomi banyak pemain yang terlibat di dalamnya, mereka adalah ustadz-ustadz selebritis.

Saya sudah tidak tertarik sama si Jeffry, Arifin. Dan si Gymnastiar. Begitu pun dengan ustadz-ustadz yang sering muncul di TV. Mereka semua terlalu over, membawakanayat-ayat Allah hanya untuk bahan cari popularitas. Maaf jika para pengemar ustadz-ustadz ini tersinggung, tapi saya tetap pada pendirian saya. Lalu ketika anda berfikir saya bukan islam, anda salah saya masih islam walaupun hanya Islam KTP. Tapi saya tidak sendiri, karena yang Islam KTP jumlahnya jutaan di Indonesia.

Ustadz Jeffry Al Buchori alias Uje, begitulah namanya disebut di Televisi. Ustadz gaul ini kerap muncul di sela-sela sebelum bedug maghrib, saat sahur, Iklan produk, acara-acara musik Ramadhan, pengajian rutin mingguan, wah pokoknya banyak deh. Bayangkan berapa penghasilannya sebulan, tentu sangat besar dan jauh bila dibandingkan dengan buruh kontrak seperti saya. Eksploitasi yang besar-besaran dari media lah yang membuat dia kehilangan esensi keagamaannya. Sehingga dikhawatirkan dia bukan ceramah berdasarkan agama tetapi uang.

Uje juga sering mengisahkan masa lalunya sebagai pecandu narkoba dan kemudian bertaubat menjadi ustadz. Bagus memang tapi jika terlalu di ekspos orang-orang juga bosan mendengar celoteh seperti itu. Hal yang membuat saya yakin dia sebagai selebritis adalah seringnya dia menyanyi di berbagai acara bahkan dia sudah membuat album. Dan apakah dia sadar bahwa saat dia bernyanyi-nyanyi banyak orang yang menangis kelaparan.

Ustadz Arifin Ilham, sama seperti Uje sering tampil di televisi terutama di sinetron hidayah dan acara-acara dzikir. Ustadz ini adalah ustadz yang sangat rajin berzikir, mengagungkan nama Allah dan bershalawat kepada Nabi Muhammad. Lalu apa yang salah dengan dia, jawabannya tidak ada. Saya hanya tidak suka melihat orang yang individual. Individual dalam artian terlalu sibuk berurusan dengan Tuhan sedangkan manusia-manusia disekelilingnya banyak yang menderita. Tugas manusia adalah memberikan manfaat di sekitarnya. Apakah semua urusan bisa diselesaikan dengan doa dan dzikir. Doa dan dzikir adalah obat hati, tapi ikhtiar adalah pergerakan.

Abdullah Gymnastiar a.k.a Aa Gym, seorang ulama asal Bandung yang mengajarkan kesederhanaan, kepedulian terhadap lingkungan, serta kemampuan mengelola hati. Secara prinsipal dia merangkum ajarannya dalam tema Manajemen Qalbu. Tema ini pula lah yang dia jadikan sebagai merek dagang, tapi dia lebih memilih menyingkatnya menjadi MQ. Sejalan dengan kondangnya Aa Gym, MQ pun menjadi perusahaan besar dan mempunyai berbagai macam usaha seperti MQ TV, MQ radio, MQ busana, MQ travel, MQ mini market dan masih banyak lagi.

Ajaran Aa gym menurut saya adalahajaran yang paling relevan bagi bangsa kita saat ini. Banyak warga miskin yang dia bantu untuk usaha atau bekerja sehingga tidak menjadi sampah masyarakat. Para santri pun dia latih agar menjadi santri siap guna, agar kelak si santri tidak hanya pandai mengaji tetapi juga menjadi manfaat di sekelilingnya. Sayang sekarang pamornya turun karena poligami, sebuah perbuatan yang kurang disukai di negeri ini terutama bagi kaum hawa. Media massa yang dulu mengangkat namanya kini menjatuhkannya bertubi-tubi, menegaskan bahwa media massa terutama acara Gossip adalah kadal kemunafikan. Tapi saya tidak peduli dengan poligami yang dilakukan Aa, bukan urusan yang mendesak untuk diperdebatkan sehingga melupakan masalah yang sebenarnya terjadi.

Suatu hal yang menjadi ketidak sukaan saya terhadap Aa Gym adalah karena dia terlalu dekat dengan pejabat. Sudah jelas mereka itu korup dan menyengsarakan rakyat, jadi jangan kompromisama mereka. Pejabat-pejabat itu sering mengundang ulama seperti Aa Gym untuk berceramah di tempatnya dengan iming-iming uang yang esar untuk mengalihkan perhatian ulama kepada pengajian masyarakat yang berkantung tipis. Pejabat-pejabat itu juga ingin mengesankan bahwa mereka itu dekat dengan ulama sehingga mereka bisa dicap sholeh. Dan dengan begitu angkah untuk kembali enjadi penguasa terbuka lebar.

Dosa ustadz ustadz ini tentu tidaklah sebesar dosa saya, seorang kafir yang tidak pernah menjalankan sholat hanya karena alasan miris melihat banyak orang sholat tetapi masih membunuh, memperkosa, korupsi, dan memfitnah. Ustadz-ustadz ini hanya terjebak pada eksploitasi kapitalisme televisi. Mereka menjadi produk peningkat rating sehingga banyak para pengiklan yang beriklan di stasiun TV. Para ustadz-ustadz ini cenderung menjadi sahabat para pejabat-pejabat yang jelas sering menyengsarakan rakyat. Padahal seharusnya kaum ulama dapat menjadi kaum kebenaran dan keadilan, tetapi yang terjadi mereka menjadi kelas sosial yang baru. Saya sangat rindu akan hadirnya ulama ulama seperti H. Agus Salim, dan Buya Hamka yang berani berjuang bersama rakyat. Sayangnya ustadz-ustadz yang berpengaruh saat ini sudah di plot sebagai selebritis untuk main sinetron, menyanyi, dan di gossipkan. Jadi ketika anda sudah mengidolakan para ustadz selebritis, saya hanya bisa berkata ”Maaf Saya Bukan Penggemar Ustadz favorit Anda.

Selasa, 18 September 2007

Ramadhan, Euforia atau Penjernihan

Hari ini banyak manusia berkarbonasi menjadi sosok putih nan bercahaya seakan seperti malaikat. Yah Ramadhan membuat banyak orang sementara berubah menjadi malaikat penolong dari topeng asli iblisnya yang telah menyatu dengan dirinya selama 11 bulan. Orang orang membuat image seakan dia tidak pernah berbuat bejad.
Baju-baju dan gaun-gaun muslim laku bak kacang goreng, pelacur-pelacur ditangkap, perjudian diberantas, penjual minuman keras dirazia, tempat dugem ditutup dan nuansa-nuansa erotis untuk sementara diberhentikan untuk memberikan kesempatan sejenak kepada para lelaki hidung belang untuk kembali ke pelukan istri dan anaknya. Masjid-masjid pun tak kalah ramainya dikunjungi umat sehingga masjid yang biasanya kosong melompong kini kehilangan ruang untuk bernapas, walaupun di akhir ramadhan akan sepi kembali. Al Quran yang berdebu di lemari kembali dibuka dan dibaca, walau kebanyakan dari kita tak tahu apa maksud dari ayat yang dibaca sehingga tak banyak membawa perubahan. Ramadhan memang dahsyat sehingga membuat negeri yang brengsek ini bisa menemukan jati dirinya walaupun hanya satu bulan. Jati diri bangsa yang telah hilang dimakan keserakahan serta hawa nafsu.
Walau Ramadhan hanya euforia semata sama seperti euforia nasionalisme saat 17 agustus kemarin tapi setidaknya kebrengsekan ini bisa berhenti sejenak dan mudah-mudahan orang –orang Indonesia yang mayoritas muslim bisa menjadi pribadi Taqwa seperti yang disebutkan Al Quran. Euforia ini semakin terasa apabila kita melihat stasiun televisi berlomba lomba menayangkan program ramadhan, mulai dari sinetron ramadhan, musik ramadhan, ceramah ramadhan, program sahur dan lain lain. Semua terasa basi, munafik, karena tujuannya bukan untuk perbaikan umat tapi hanya peningkatan rating yang berakibat pada meningkatnya iklan di televisi. Kalau tujuannya profit maka apa bedanya program ramadhan dengan sinetron religi yang sering ditayangkan pada bulan biasa yang cenderung naif. Secara kemasan mungkin berbau islami tapi secara isi tidak menyentuh moral bangsa indonesia yang beragama.
Ternyata masih ada saja keserakahan di bulan suci ini. Masih banyak juga orang yang menimbun barang dagangan agar harganya selangit. Lalu calo-calo tiket sudah berancang-ancang membeli tiket kereta api, kapal laut, bahkan pesawat. ”Anjing”, bangsa ini ternyata masih sama saja seperti dulu bejad. Bangsa bermental penjajah, penjajah bangsa sendiri. Kontribusi bulan ramadhan memang sudah tidak banyak merubah mental bangsa Indonesia, karena orang hanya larut dalam euforia bukan makna.
Semangat tolong menolong di bulan Ramadhan juga tidak banyak berubah dibandingkan bulan-bulan lainnya. Lihat saja saat Gempa di Sumatera kemarin apakah banyak bantuan yang mengalir? Apakah pemerintah cepat turun tangan? Mungkin presiden lebih tertarik terhadap masalah penculikan anak daripada masalah-masalah yang menyangkut hidup orang banyak. Dan hal yang lebih tidak masuk akal lagi adalah ketika pemerintah membuat peraturan daerah dimana kita dilarang memberi sedekah kepada pengemis dan membeli kepada pedagang asongan. Kalau kita melanggar maka akan didenda sebesar 5 – 15 juta.
Apa yang salah dengan pengemis dan pedagang asongan, mereka tidak banyak mengambil uang rakyat seperti Nurdin Halid, Akbar Tanjung, Soeharto, dan koruptor lainnya. Mereka menjadi seperti itu karena sistem negeri ini tidak memihak masyarakat miskin. Peraturan inipun jelas mempertegas kembali bahwa pemerintah Indonesia memang tidak memihak kepada rakyat miskin. Pejabat kita memang belum pernah menjadi pengemis dan pedagang asongan jadi buat aturan seenak udelnya. Sepertinya pemerintah kita ingin mengesankan bahwa Indonesia adalah negara maju dan tidak ada pengemis, sehingga negara-negara kapitalise barat mau menanamkan modalnya di Indonesia.
Hal yang paling tidak saya bayangkan adalah di bulan Ramadhan yang penuh berkah saja masih banyak diantara kita berserakah ria apalagi di bulan biasa lainnya. Jadi ramadhan ini apakah euforia belaka atau waktu untuk penjernihan? SEBUAH TANDA TANYA BESAR
?

NARCIST ITU CANDU

Kalau melihat friendster (Situs pertemanan paling popular pada zaman saya. Selain itu ada juga Myspace dan LiveConnector ) mau tidak mau kita dipaksa melihat jejeran foto- foto terbaik menurut si empunya. Mereka menampilkan diri mereka dalam pose terbaik, tercantik, terganteng, terseksi, bahka erotis sehingga menarik banyak perhatian orang.
Dan dengan sedikit keahlian photoshop serta kepemilikan foto foto terbaik menurut saya, saya akhirnya ikut-ikutan terjerembab dalam deretan koleksi foto ini. Muka yang pas-pasan ini saya rubah menjadi sedikit lebih putih, tanpa jerawat, dan badan sedikit dibuat langsing. Lalu apa yang saya dapat ! wanita- wanita yang entah darimana asalnya tiba-tiba nge ADD saya dan memberi komentar yang merangsang, sedangkan teman-teman dekat yang setiap hari mengenal saya apa adanya hanya komentar “Dasar Narcist”.
“Narcist”, ya kata itu yang sering saya dengar dari mereka. Sampai saat ini saya tidak tahu apa arti narcist yang sebenarnya dan darimana dia berasal. Narcist yang sering mereka katakan itu tidak ada dalam kamus bahasa inggris saya (mungkin karena kamus saya yang kurang tebal, maklum beli di emperan).
Lalu ketika teman saya membawa foto digital barunya ke kampus, saya meminjamnya untuk memfoto diri saya sendiri dengan gaya yang menurut saya paling keren. Dan kata Narcist itu terucap kembali dari mulut teman-teman saya. Dengan teori gembel saya, saya mulai berkesimpulan bahwa berfoto sendiri adalah pengertian dari Narcist. Karena setiap kita berfoto sendiri dengan gaya yang menurut saya keren saya selalu diteriaki narcist.
Berarti kita semua narcist. Mau buat KTP harus difoto sendirian, mau buat SIM, mau buat raport, mau buat pasport harus difoto sendirian. Bahkan mau ngirim CV lamaran kerja harus dilampirkan foto kita yang sendirian. Pernah lihat foto presiden dan wakilnya tergantung di dinding kelas, apakah mereka tidak Narcist? Apakah Narcist itu dosa ? dan apakah narcist itu lebih kejam dari pembunuhan seperti Ibukota lebih kejam daripada Ibu tiri. Hal ini membuat keyakinan saya bertambah bahwa negeri ini mendukung pergerakan Narcistme , orang presidennya juga narcist.
Biarlah semua orang narcist, narcist bukan dosa dan tidak merugikan banyak orang. Kalau kita tidak suka sama foto seseorang ya nggak usah diteriakin Narcist lah, lagian arti narcist sendiri juga belum jelas. Narcist adalah hak setiap orang karena setiap orang ingin menampilkan dirinya yang terbaik walaupun terkadang harus ditutupi dengan kebohongan. Narcist memang sudah menjadi candu sama seperti buku, rokok, dan segelas kopi dan juga drugs. Jadi nikmatilah kecanduan kalian akan Narcist. Tapi ngomong ngomong setelah saya membual membabi buta seperti ini saya tetap belum tahu What the Meanings of Narcist ? Ada yang bisa bantu.

KOTAK VISUAL

Kotak Visual sebuah benda yang membuat manusia menjadi lebih modern .Sebuah kotak yang didalamnya terdapat perangkat elektronik berbasis bahasa pemrograman yang rumit dan hanya orang-orang berpendidikan tinggi yang bisa membuatnya. Menjadikan manusia cepat menerima informasi tanpa dipisahkan oleh jarak dan waktu. Tapi karena kotak visual ini juga terkadang manusia lupa kodratnya sebagai makhluk sosial.
Seseorang bisa membunuh waktu sepi bersama kotak visual tapi ia juga bisa mati dengan tragis tanpa kotak visual ditangannya. Kembali lagi manusia lupa tugasnya sebagai manusia, bukan Tuhan.
Hari ini kotak visual berkembang begitu cepat, ada yang 3,5G, layar Flat, kamera10 Megapixel, casing warna-warni, akses data yang cepat hingga 8 Mbps, dan yang paling parah ada yang dihiasi berlian sebagai pernak-pernik yang tentu saja dijual dengan harga yang mahal. Kotak Visual menyebabkan manusia haus akan trend lapar akan pujian sehingga berdampak pada konsumerisme ataupun shoppaholic terhadap teknologi. Kotak visual mampu merubah kebudayaan masyarakat kita yang santun menjadi masyarakat yang keras dan individualis.
Hari ini banyak koran membicarakan kotak visual terbaru, banyak institusi pendidikan membuat jurusan teknik kotak visual untuk melengkapi kehausan manusia menjadi ahli kotak visual. Hari ini kotak visual tak hanya berbentuk kotak, tapi ia juga menjelma menjadi bulat, elips, segitiga, prisma bahkan trapesium. Semua itu semakin membenamkannya menjadi objek yang menarik dan harus dimiliki setiap orang, tak peduli bagaimana caranya ia didapatkan apakah bershoppaholic ria, berklepto ria, atau berkilling ria.
Zamanku adalah zaman kotak visual zaman yang bakal diingat olehku, olehmu, dan oleh anak cucu kita.

AKU INGIN MENJADI KOPI TUBRUK

Selamat Pagi Kawan! Sambut ceria seorang kopi hitam yang dengan hangat menyapa ketika gigi masih bermentega, bibir masih tersisa cairan putih dan rambut masih berantakan bertubrukan ke arah yang saling berlawanan.
Seorang kopi bernama tubruk sudah terbangun dari tidurnya, mendekapku dengan mesra serta bergairah. Perawakannya hitam legam, aroma tubuhnya pekat tapi dari situ dia memancarkan sebuah kesederhanaan yang sudah langka di negeri ini. Dia memang pahit tapi dari rasanya itu tecermin sebuah kejujuran yang jarang kita dapat di kehidupan sehari hari. Kejujuran bahwa kopi memang pahit tapi disukai banyak orang.
Setelah malam hari yang penat membaca sajak Wiji Thukul ” Aku Ingin Jadi Peluru” dan cerpennya Dee ”Filosofi Kopi”, dipagi hari saya bisa berkata ”Aku Ingin Menjadi Kopi Tubruk”. Bukan Cappucino yang selalu menutupi pribadinya yang pahit dengan tampilan yang cantik dan mahal karena dipadu esspreso yang mahal serta krim yang enak tapi membuat kadar lemak dalam tubuh semakin beranak pinak.
Hanya Barista handal yang bisa membuat Cappucino enak dan hanya orang berkantong tebal yang bisa menikmati tubuhnya. Sebuah harga yang mahal untuk membeli sebuah kepalsuan. Sedangkan disisi lain seorang pemulung masih bisa membuat dan merasakan nikmatnya Kopi Tubruk yang jujur.
Pernah terbayang apa jadinya Indonesia tanpa kopi tubruk. Orang orang pinggiran tidak bisa mengemukakan pendapatnya secara demokrasi kepada sesamanya dipinggir gang sempit yang juga tempat berdiam para keturunan tikus got. Pak hansip yang gajinya berdasarkan belas kasihan akan selalu tertidur di posnya karena terkantuk-kantuk tak ada kopi tubruk yang menemani. Lalu para sopir truk lebih memilih tidur bersama pelacur-pelacur jalanan daripada harus jengah berlama-lama dirumah istri tuanya karena sang istri tua sudah tidak pernah membuatkan dia kopi tubruk.
Siapa yang sanggup menggantikan kopi tubruk di Indonesia. Apakah Cappucino, Coffelatte, atau Moccacino. Rasanya Teh Panas saja tidak bisa menandingi hebatnya Kopi Tubruk apalagi mereka bertiga.

Kamis, 06 September 2007

Budaya Sunda, Antara Mitos dan Realitas

Oleh Drs. REIZA D. DIENAPUTRA, M.Hum.

W.S. Rendra dalam Kongres Kebudayaan IV di Jakarta, 29 Oktober - 3 November 1991, mengemukakan bahwa setidaknya ada tujuh daya hidup yang harus dimiliki oleh sebuah kebudayaan. Pertama, kemampuan bernapas. Kedua, kemampuan mencerna. Ketiga, kemampuan berkoordinasi dan berorganisasi. Keempat, kemampuan beradaptasi. Kelima, kemampuan mobilitas. Keenam, kemampuan tumbuh dan berkembang. Ketujuh, kemampuan regenerasi.
Kemampuan bernapas dalam kebudayaan dimaknai sebagai kemampuan untuk mengolah hawa menjadi prana, menjaga kebersihan udara, mengharmonikan kegiatan kehidupan dengan irama nafas, serta menghilangkan hal-hal yang menimbulkan ketegangan pada pikiran yang berarti menimbulkan kesesakan pada nafas kehidupan. Kemampuan mencerna dimaknai sebagai kemampuan untuk mencernakan berbagai pengalaman dalam kehidupan. Kemampuan berkoordinasi dan berorganisasi dimaknai sebagai kemampuan berinteraksi secara sosial.
Kemampuan beradaptasi dimaknai sebagai kemampuan kesadaran untuk secara kreatif mengatasi tantangan keadaan, tantangan zaman, dan tantangan berbagai ragam pergaulan. Kemampuan mobilitas dimaknai sebagai kemampuan untuk dengan kreatif menciptakan mobilitas sosial, politik, dan ekonomi, baik yang bersifat horizontal maupun vertikal.
Kemampuan tumbuh dan berkembang diartikan sebagai kemampuan kesadaran untuk selalu maju, selalu bertambah luas, dan dalam wawasannya selalu menawarkan paradigma-paradigma yang segar dan baru. Kemampuan regenerasi dimaknai sebagai kemampuan untuk mendorong munculnya generasi baru yang kreatif dan produktif.
Di samping daya hidup, unsur lain lagi yang juga penting dalam suatu kebudayaan adalah mutu hidup. Mutu hidup bukanlah merupakan kesempurnaan tetapi lebih dimaknai sebagai kewajaran. Adapun kewajaran dalam hidup manusia merupakan harmoni tiga mustika, yakni, tanggung jawab kepada kewajiban, idealisme, dan spontanitas. Tanggung jawab kepada kewajiban dimaknai sebagai sebuah kesadaran untuk selalu melaksanakan kewajiban-kewajiban secara penuh sesuai dengan tanggung jawab sosialnya.
Idealisme dimaknai sebagai rumusan sikap hidup seseorang di dalam menempuh padang dan hutan belantara kehidupan. Idealisme sekaligus merupakan sumber kepuasan batin seseorang. Spontanitas dimaknai sebagai ungkapan naluri dan intuisi manusia. Tanpa spontanitas akan menyebabkan hidup menjadi kering dan hambar.

Daya hidup

Kebudayaan Sunda termasuk salah satu kebudayaan suku bangsa di Indonesia yang berusia tua. Bahkan, dibandingkan dengan kebudayaan Jawa sekalipun, kebudayaan Sunda sebenarnya termasuk kebudayaan yang berusia relatif lebih tua, setidaknya dalam hal pengenalan terhadap budaya tulis. "Kegemilangan" kebudayaan Sunda di masa lalu, khususnya semasa Kerajaan Tarumanegara dan Kerajaan Sunda, dalam perkembangannya kemudian seringkali dijadikan acuan dalam memetakan apa yang dinamakan kebudayaan Sunda.
Kebudayaan Sunda yang ideal pun kemudian sering dikaitkan sebagai kebudayaan raja-raja Sunda atau tokoh yang diidentikkan dengan raja Sunda. Dalam kaitan ini, jadilah sosok Prabu Siliwangi dijadikan sebagai tokoh panutan dan kebanggaan urang Sunda karena dimitoskan sebagai raja Sunda yang berhasil, sekaligus mampu memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya.
Dalam perkembangannya yang paling kontemporer, kebudayaan Sunda kini banyak mendapat gugatan kembali. Pertanyaan seputar eksistensi kebudayaan Sunda pun sering kali mencuat ke permukaan. Apakah kebudayaan Sunda masih ada? Kalau masih ada, siapakah pemiliknya? Pertanyaan seputar eksistensi kebudayaan Sunda yang tampaknya provokatif tersebut, bila dikaji dengan tenang sebenarnya merupakan pertanyaan yang wajar-wajar saja. Mengapa demikian? Jawabannya sederhana, karena kebudayaan Sunda dalam kenyataannya saat ini memang seperti kehilangan ruhnya atau setidaknya tidak jelas arah dan tujuannya. Mau dibawa ke mana kebudayaan Sunda tersebut?
Kalaulah kemudian tujuh daya hidup kreasi Rendra digunakan untuk mengelaborasi kebudayaan Sunda kontemporer, setidaknya ada empat daya hidup yang perlu dicermati dalam kebudayaan Sunda, yaitu, kemampuan beradaptasi, kemampuan mobilitas, kemampuan tumbuh dan berkembang, serta kemampuan regenerasi. Kemampuan beradaptasi kebudayaan Sunda, terutama dalam merespons berbagai tantangan yang muncul, baik dari dalam maupun dari luar, dapat dikatakan memperlihatkan tampilan yang kurang begitu menggembirakan. Bahkan, kebudayaan Sunda seperti tidak memiliki daya hidup manakala berhadapan dengan tantangan dari luar.
Akibatnya, tidaklah mengherankan bila semakin lama semakin banyak unsur kebudayaan Sunda yang tergilas oleh kebudayaan asing. Sebagai contoh paling jelas, bahasa Sunda yang merupakan bahasa komunitas urang Sunda tampak secara eksplisit semakin jarang digunakan oleh pemiliknya sendiri, khususnya para generasi muda Sunda. Lebih memprihatinkan lagi, menggunakan bahasa Sunda dalam komunikasi sehari-hari terkadang diidentikkan dengan "keterbelakangan", untuk tidak mengatakan primitif. Akibatnya, timbul rasa gengsi pada urang Sunda untuk menggunakan bahasa Sunda dalam pergaulannya sehari-hari. Bahkan, rasa "gengsi" ini terkadang ditemukan pula pada mereka yang sebenarnya merupakan pakar di bidang bahasa Sunda, termasuk untuk sekadar mengakui bahwa dirinya adalah pakar atau berlatar belakang keahlian di bidang bahasa Sunda.
Apabila kemampuan beradaptasi kebudayaan Sunda memperlihatkan tampilan yang kurang begitu menggembirakan, hal itu sejalan pula dengan kemampuan mobilitasnya. Kemampuan kebudayaan Sunda untuk melakukan mobilitas, baik vertikal maupun horizontal, dapat dikatakan sangat lemah. Oleh karenanya, jangankan di luar komunitas Sunda, di dalam komunitas Sunda sendiri, kebudayaan Sunda seringkali menjadi asing. Meskipun ada unsur kebudayaan Sunda yang memperlihatkan kemampuan untuk bermobilitas, baik secara horizontal maupun vertikal, secara umum kemampuan kebudayaan Sunda untuk bermobilitas dapat dikatakan masih rendah sehingga kebudayaan Sunda tidak saja tampak jalan di tempat tetapi juga berjalan mundur.
Berkaitan erat dengan dua kemampuan terdahulu, kemampuan tumbuh dan berkembang kebudayaan Sunda juga dapat dikatakan memperlihatkan tampilan yang tidak kalah memprihatinkan. Jangankan berbicara paradigma-paradigma baru, iktikad untuk melestarikan apa yang telah dimiliki saja dapat dikatakan sangat lemah. Dalam hal folklor misalnya, menjadi sebuah pertanyaan besar, komunitas Sunda yang sebenarnya kaya dengan folklor, seberapa jauh telah berupaya untuk tetap melestarikan folklor tersebut agar tetap "membumi" dengan masyarakat Sunda.
Kalaulah upaya untuk "membumikan" harta pusaka saja tidak ada bisa dipastikan paradigma baru untuk membuat folklor tersebut agar sanggup berkompetisi dengan kebudayaan luar pun bisa jadi hampir tidak ada atau bahkan mungkin, belum pernah terpikirkan sama sekali. Biarlah folklor tersebut menjadi kenangan masa lalu urang Sunda dan biarkanlah folklor tersebut ikut terkubur selamanya bersama para pendukungnya, begitulah barangkali ucap urang Sunda yang tidak berdaya dalam merawat dan memberdayakan warisan leluhurnya.
Berkenaan dengan kemampuan regenerasi, kebudayaan Sunda pun tampaknya kurang membuka ruang bagi terjadinya proses tersebut, untuk tidak mengatakan anti regenerasi. Budaya "kumaha akang", "teu langkung akang", "mangga tipayun", yang demikian kental melingkupi kehidupan sehari-hari urang Sunda dapat dikatakan menjadi salah satu penyebab rentannya budaya Sunda dalam proses regenerasi. Akibatnya, jadilah budaya Sunda gagap dengan regenerasi.
Generasi-generasi baru urang Sunda seperti tidak diberi ruang terbuka untuk berkompetisi dengan sehat, hanya karena kentalnya senioritas serta "terlalu majunya" pemikiran para generasi baru, yang seringkali bertentangan dengan pakem-pakem yang dimiliki generasi sebelumnya. Akibatnya, tidaklah mengherankan bila proses alih generasi dalam berbagai bidang pun berjalan dengan tersendat-sendat.
Bila pengamatan terhadap daya hidup kebudayaan Sunda melahirkan temuan-temuan yang cukup memprihatinkan, hal yang sama juga terjadi manakala tiga mustika mutu hidup kreasi Rendra digunakan untuk menjelajahi Kebudayaan Sunda, baik itu mustika tanggung jawab terhadap kewajiban, mustika idealisme maupun mustika spontanitas. Lemahnya tanggung jawab terhadap kewajiban tidak saja diakibatkan oleh minimnya ruang-ruang serta kebebasan untuk melaksanakan kewaijiban secara total dan bertanggung jawab tetapi juga oleh lemahnya kapasitas dalam melaksanakan suatu kewajiban.
Hedonisme yang kini melanda Kebudayaan Sunda telah mampu menggeser parameter dalam melaksanakan suatu kewajiban. Untuk melaksanakan suatu kewajiban tidak lagi didasarkan atas tanggung jawab yang dimilikinya, tetapi lebih didasarkan atas seberapa besar materi yang akan diperolehnya apabila suatu kewajiban dilaksanakan. Bila ukuran kewajiban saja sudah bergeser pada hal-hal yang bersifat materi, janganlah berharap bahwa di dalamnya masih ada apa yang disebut mustika idealisme. Para hedonis dengan kekuatan materi yang dimilikinya, sengaja atau tidak sengaja, semakin memupuskan idealisme dalam kebudayaan Sunda. Akibatnya, jadilah betapa sulitnya komunitas Sunda menemukan sosok-sosok yang bekerja dengan penuh idealisme dalam memajukan kebudayaan Sunda.