BLOG ini hanyalah bualan-bualan semata, tidak berorientasi pada apapun. Mencoba Menulis hanyalah sebuah eksperimen seorang yang konyol untuk merepresentasikan otaknya yang kosong.
Tampilkan postingan dengan label masyarakat kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label masyarakat kita. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Desember 2007

WARTEG dan WARKOP sebagai Gedung DPR baru

Warung Tegal adalah salah satu jenis usaha gastronomi yang menyediakan makanan dan minuman dengan harga terjangkau. Biasa juga disingkat Warteg, nama ini seolah sudah menjadi istilah generik untuk warung makan kelas menengah ke bawah di pinggir jalan, baik yang berada di kota Tegal maupun di tempat lain, baik yang dikelola oleh orang asal Tegal maupun dari daerah lain.

Warung tegal pada awalnya banyak dikelola oleh masyarakat dari tiga desa di Tegal yaitu warga desa Sidapurna, Sidakaton & Krandon, Kecamatan Dukuhturi Kabupaten Tegal. Mereka mengelola warung tegal secara bergiliran (antar keluarga dalam satu ikatan famili) setiap 3 s/d 4 bulan. Yang tidak mendapat giliran mengelola warung biasanya bertani di kampung halamannya. Pengelola warung tegal di Jakarta yang asli orang Tegal biasanya tergabung dalam "KOWARTEG" yaitu Koperasi Warung Tegal, sebuah organisasi yang bertujuan untuk saling merekatkan hubungan persaudaraan sesama Warteg.


Hidangan-hidangan di warteg pada umumnya bersifat sederhana dan tidak memerlukan peralatan dapur yang sangat lengkap. Nasi goreng dan mi instan hampir selalu dapat ditemui, demikian pula makanan ringan seperti pisang goreng, minuman seperti kopi, teh dan minuman ringan. Sedangkan Warkop alias Warung Kopi juga adalah salah satu jenis usaha kecil yang kebanyakan hanya menyediakan minuman kopi, indomie rebus, dan gorengan sebagai teman ngobrol.

Jangan harap mendapat tempat yang mewah, kursi yang nyaman, atau fasilitas Hotspot gratis, semua jelas tidak ada karena ini bukan restoran franchise layaknya Mc Donalds atau Starbuck's. Ditempat ini yang ada adalah kesederhanaan dan sapaan hangat sang pelayan yang selalu menanyakan " Makan Mas' nasinya satu atau setengah, lauknya apa Mas?" atau "Kopi Mas, kopi item atau pake susu?". Dan dengan harga merakyat Anda dapat membungkam cacing pita yang berteriak-teriak kelaparan di usus besar Anda. Semua fasilitas Warteg dan Warkop begitu merakyat membumi dan ala kadarnya.


Warteg dan Warkop adalah tempat paling demokratis di dunia ini. Semua orang berhak berargumen mengemukakan gagasannya tanpa takut ditangkap dengan undang-undang anti subversif, tanpa takut diintimidasi golongan-golongan. Banyak topik yang dibicarakan di kedua tempat ini mulai dari keluh kesah warga terhadap kinerja pemerintahan, bola, pendidikan, dan tentu saja seks. Bahkan konon pergerakan mahasiswa ketika menggulingkan rezim Tuan Besar Soeharto dimulai dari obrolan di warung kopi sekitar kampus. Semua yang hadir di perhelatan itu menjelma menjadi aktifis-aktifis yang terkadang menjadi lebih vokal dibanding dengan aktifis atau politikus sesungguhnya. Warteg dan warung kopi menjelma menjadi sebuah gedung dewan perwakilan rakyat dadakan karena sidang paripurna rutin diadakan di tempat ini. Tapi yang perlu dicatat di Gedung DPR dadakan ini tak ada Ketua atau wakil apalagi Fraksi-fraksi Partai.

Hanya saja Warung-warung kopi dan Warteg tidak juga mewakili masyarakat Indonesia yang heterogen. Manusia-manusia yang mengisi tempat ini kebanyakan adalah masyarakat-masyarakat menengah kebawah yang termarjinalkan dari demografi perekonomian bangsa ini. Namun setidaknya masyarakat marjinal ini mewakili pendapat sebagian besar bangsa Indonesia, karena pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia adalah masyarakat miskin. Seharusnya para petinggi negeri ini meluangkan waktunya barang sejam-dua jam di Warteg atau Warkop untuk mendengar aspirasi rakyat atau bahkan beradu argumen, sehingga dapat mewujudkan sebuah Good Governance.

Negeri ini sudah jengah dengan janji-janji kampanye, orang-orang sudah semakin kritis dan pintar. Maka pendekatan yang terbaik adalah berdialog secara dewasa tanpa mengumbar janji yang berlebihan. Dan Warteg atau Warkop bisa menjadi tempat proses demokrasi yang melahirkan wacana kehidupan yang lebih baik. Pada titik inilah warung kopi seolah menemukan momentumnya, yaitu tempat dimana demokrasi dengan karakternya yang khas telah tumbuh subur. Atau setidaknya tempat ini telah dijadikan alternative untuk melakukan rembesan demokrasi di negri ini melebihi fungsi Gedung DPR/MPR.

Rabu, 14 November 2007

BERKACA DARI KLAIM MALAYSIA

Polemik tentang pengklaiman yang dilakukan oleh Malaysia beberapa waktu lalu masih belum menemukan titik terang. Lagu Rasa Sayange yang dipakai Malaysia dalam promosi wisatanya mengundang amarah orang-orang Indonesia karena lagu Rasa Sayange adalah lagu daerah Maluku. Selain lagu Rasa Sayange, Malaysia juga mengklaim kain batik, angklung, rendang, reog, congklak, dan beberapa kebudayaan Indonesia sebagai kebudayaan asli Malaysia. Hal ini belum ditambah persoalan lama tentang kepulauan Sipadan dan Ligitan yang sudah menjadi milik Malaysia serta kasus blok Ambalat.
Pengklaiman tersebut kontan memicu amarah bangsa Indonesia, karena menganggap Malaysia tidak pernah meminta ijin kepada Indonesia tentang penggunaan lagu tersebut dan juga sakit hati masalah lama. Media di Indonesia sangat gencar memberitakan pengklaiman ini, sehingga muncul sebuah gagasan untuk “Mengganyang Malaysia” seperti jaman Presiden Soekarno. Namun gagasan ini tak sepenuhnya disetujui pemerintah karena permasalahan ini harus diselesaikan dengan cara yang dingin.
Orang Indonesia yang tidak puas akan kondisi ini lantas menyerang berbagai situs Malaysia dengan virus, salah satu situs yang diserang adalah www.rasasayang.com.my. Dunia internet ramai dihiasi adu pendapat antara Indonesia-Malaysia, bahkan terkadang adu pendapat itu malah saling melecehkan. Orang Indonesia bilang bahwa Malaysia adalah Negara yang tidak berbudaya sehingga mengklaim budaya lain. Lalu Malaysia dituding sangat rakus dan diskriminatif, sehingga orang Indonesia memplesetkan Malaysia sebagai Malingsia. Seperti tak mau kalah orang Malaysia juga mengejek-ejek Indonesia sebagai Negara miskin bodoh yang menganggap masalah remeh seperti ini sebagai masalah besar sedangkan masalah seperti korupsi seperti dilupakan. Bahkan orang Malaysia menyebut Indonesia sebagai Indonlacur, karena banyak mengirim wanita ke banyak Negara sebagai pelacur.
Adu tuding ini malah semakin meruncingkan permasalahan yang ada sehingga terkadang menjadi keluar dari masalah inti. Namun pada hari selasa tanggal 13 november 2007 Malaysia mengakui secara defacto bahwa lagu rasa sayange sebagai lagu dari Indonesia. Pernyataan ini disampaikan oleh menteri kebudayaan Malaysia Dr Rais Yatim pada pertemuan dengan mentri kebudayaan Indonesia Jaro Wacik. Semoga saja pengakuan secara de facto Malaysia ini bisa mengakhiri problematika yang ada.
Tapi ada sebuah pelajaran yang dapat kita ambil dari pengklaiman Malaysia terhadap kebudayaan Indonesia, bahwa sebagai bangsa yang memiliki banyak kebudayaan sepatutnya Indonesia menghargai kebudayaan yang dimiliki dan melestarikannya. Masyarakat kita juga cenderung terbelenggu pada kebanggaan pada budaya luar khususnya budaya barat seakan kita tak pernah tahu budaya sendiri, padahal orang barat justru sangat bangga akan budaya kita. Sebagai contoh adalah Angklung, di Malaysia, Belanda, dan Kanada Angklung mendapat respon yang sangat bagus sehingga anak-anak di Negara tersebut diajarkan bagaimana cara memainkan angklung. Dan yang paling mencengangkan bahwa di Malaysia musik Angklung sudah menjadi trend musik baru bagi para kaum mudanya. Kaum muda di Malaysia tidak canggung memainkan angklung di jalanan atau berbagai festival di Malaysia.
Bangsa Indonesia sangat marah besar ketika hasil karyanya diklaim orang lain dan dibajak orang lain. Sungguh sebuah ironi karena bangsa pembajak terbesar di dunia bisa marah ketika hasil karyanya dibajak. Apa mungkin ini balasan Tuhan kepada bangsa pembajak, sehingga Dia mentakdirkan orang asing membajak karya cipta bangsa Indonesia. Inilah yang dirasakan para pencipta karya dan pemilik hak cipta, sedih sekaligus marah besar. Mungkin ini penyebab bangsa asing tidak mau memihak Indonesia atas Klaim Malaysia terhadap lagu Rasa Sayange, karena mereka merasa sakit hati produknya banyak dibajak di Indonesia. Apa sih yang tidak dibajak di Indonesia, musik, film, buku, software, parfum, pakaian, semua dibajak dengan sukses. Saya tidak menyalahkan sepenuhnya pembajakan di negeri ini karena memang negeri ini belum mampu membeli produk asli yang mahal harganya. Tapi setidaknya kita juga bisa bersikap dingin dan tidak munafik dan lebih menitikberatkan pada persoalan yang lebih fundamental di negeri ini..
Lalu bagaimana mencitrakan Indonesia yang berbudaya? Sulit menjawabnya. Mungkin seharusnya yang menjadi pertanyaan adalah mengapa bangsa asing lebih mengenal Malaysia dibanding Indonesia atau lebih mengenal Bali daripada Indonesia. Pertama adalah promosi pariwisata Indonesia di luar negeri sangat minim jika tidak boleh dikatakan nothing. Malaysia yang sangat gencar dengan branding “Trully Asia” nya tentu lebih dikenal di luar negeri. Alasan kedua adalah keengganan sebagian besar masyarakat Indonesia untuk melestarikan warisan budaya bangsanya sehingga wisatawan asing tidak tertarik untuk datang ke Indonesia, karena tidak ada hal yang unik. Sejauh yang saya tahu hanya di Bali lah orang dapat merasakan pengaruh kental budaya setempat tanpa mati dibunuh budaya asing. Dan alasan terakhir adalah kondisi keamanan dan sosial politik Indonesia yang tidak stabil sehingga wisatawan asing takut berkunjung ke Indonesia. Sebuah pekerjaan yang cukup berat dan konsistensi yang tinggi, tapi bisa dilakukan bila semua warga Indonesia konsen akan hal ini.

Selasa, 02 Oktober 2007

”Maaf Saya Bukan Penggemar Ustadz favorit Anda.

Saya selalu melihat bulan puasa adalah bulan euforia, sama seperti bulan Agustus yang menjadi euforianya nasionalisme. Saya selalu melihat kemunafikan membabi buta dan ayat-ayat Tuhan dijadikan komoditi. Komoditi yang menggiurkan seperti CPO dunia yang tak ada habis-habisnya. Maka secara hukum ekonomi banyak pemain yang terlibat di dalamnya, mereka adalah ustadz-ustadz selebritis.

Saya sudah tidak tertarik sama si Jeffry, Arifin. Dan si Gymnastiar. Begitu pun dengan ustadz-ustadz yang sering muncul di TV. Mereka semua terlalu over, membawakanayat-ayat Allah hanya untuk bahan cari popularitas. Maaf jika para pengemar ustadz-ustadz ini tersinggung, tapi saya tetap pada pendirian saya. Lalu ketika anda berfikir saya bukan islam, anda salah saya masih islam walaupun hanya Islam KTP. Tapi saya tidak sendiri, karena yang Islam KTP jumlahnya jutaan di Indonesia.

Ustadz Jeffry Al Buchori alias Uje, begitulah namanya disebut di Televisi. Ustadz gaul ini kerap muncul di sela-sela sebelum bedug maghrib, saat sahur, Iklan produk, acara-acara musik Ramadhan, pengajian rutin mingguan, wah pokoknya banyak deh. Bayangkan berapa penghasilannya sebulan, tentu sangat besar dan jauh bila dibandingkan dengan buruh kontrak seperti saya. Eksploitasi yang besar-besaran dari media lah yang membuat dia kehilangan esensi keagamaannya. Sehingga dikhawatirkan dia bukan ceramah berdasarkan agama tetapi uang.

Uje juga sering mengisahkan masa lalunya sebagai pecandu narkoba dan kemudian bertaubat menjadi ustadz. Bagus memang tapi jika terlalu di ekspos orang-orang juga bosan mendengar celoteh seperti itu. Hal yang membuat saya yakin dia sebagai selebritis adalah seringnya dia menyanyi di berbagai acara bahkan dia sudah membuat album. Dan apakah dia sadar bahwa saat dia bernyanyi-nyanyi banyak orang yang menangis kelaparan.

Ustadz Arifin Ilham, sama seperti Uje sering tampil di televisi terutama di sinetron hidayah dan acara-acara dzikir. Ustadz ini adalah ustadz yang sangat rajin berzikir, mengagungkan nama Allah dan bershalawat kepada Nabi Muhammad. Lalu apa yang salah dengan dia, jawabannya tidak ada. Saya hanya tidak suka melihat orang yang individual. Individual dalam artian terlalu sibuk berurusan dengan Tuhan sedangkan manusia-manusia disekelilingnya banyak yang menderita. Tugas manusia adalah memberikan manfaat di sekitarnya. Apakah semua urusan bisa diselesaikan dengan doa dan dzikir. Doa dan dzikir adalah obat hati, tapi ikhtiar adalah pergerakan.

Abdullah Gymnastiar a.k.a Aa Gym, seorang ulama asal Bandung yang mengajarkan kesederhanaan, kepedulian terhadap lingkungan, serta kemampuan mengelola hati. Secara prinsipal dia merangkum ajarannya dalam tema Manajemen Qalbu. Tema ini pula lah yang dia jadikan sebagai merek dagang, tapi dia lebih memilih menyingkatnya menjadi MQ. Sejalan dengan kondangnya Aa Gym, MQ pun menjadi perusahaan besar dan mempunyai berbagai macam usaha seperti MQ TV, MQ radio, MQ busana, MQ travel, MQ mini market dan masih banyak lagi.

Ajaran Aa gym menurut saya adalahajaran yang paling relevan bagi bangsa kita saat ini. Banyak warga miskin yang dia bantu untuk usaha atau bekerja sehingga tidak menjadi sampah masyarakat. Para santri pun dia latih agar menjadi santri siap guna, agar kelak si santri tidak hanya pandai mengaji tetapi juga menjadi manfaat di sekelilingnya. Sayang sekarang pamornya turun karena poligami, sebuah perbuatan yang kurang disukai di negeri ini terutama bagi kaum hawa. Media massa yang dulu mengangkat namanya kini menjatuhkannya bertubi-tubi, menegaskan bahwa media massa terutama acara Gossip adalah kadal kemunafikan. Tapi saya tidak peduli dengan poligami yang dilakukan Aa, bukan urusan yang mendesak untuk diperdebatkan sehingga melupakan masalah yang sebenarnya terjadi.

Suatu hal yang menjadi ketidak sukaan saya terhadap Aa Gym adalah karena dia terlalu dekat dengan pejabat. Sudah jelas mereka itu korup dan menyengsarakan rakyat, jadi jangan kompromisama mereka. Pejabat-pejabat itu sering mengundang ulama seperti Aa Gym untuk berceramah di tempatnya dengan iming-iming uang yang esar untuk mengalihkan perhatian ulama kepada pengajian masyarakat yang berkantung tipis. Pejabat-pejabat itu juga ingin mengesankan bahwa mereka itu dekat dengan ulama sehingga mereka bisa dicap sholeh. Dan dengan begitu angkah untuk kembali enjadi penguasa terbuka lebar.

Dosa ustadz ustadz ini tentu tidaklah sebesar dosa saya, seorang kafir yang tidak pernah menjalankan sholat hanya karena alasan miris melihat banyak orang sholat tetapi masih membunuh, memperkosa, korupsi, dan memfitnah. Ustadz-ustadz ini hanya terjebak pada eksploitasi kapitalisme televisi. Mereka menjadi produk peningkat rating sehingga banyak para pengiklan yang beriklan di stasiun TV. Para ustadz-ustadz ini cenderung menjadi sahabat para pejabat-pejabat yang jelas sering menyengsarakan rakyat. Padahal seharusnya kaum ulama dapat menjadi kaum kebenaran dan keadilan, tetapi yang terjadi mereka menjadi kelas sosial yang baru. Saya sangat rindu akan hadirnya ulama ulama seperti H. Agus Salim, dan Buya Hamka yang berani berjuang bersama rakyat. Sayangnya ustadz-ustadz yang berpengaruh saat ini sudah di plot sebagai selebritis untuk main sinetron, menyanyi, dan di gossipkan. Jadi ketika anda sudah mengidolakan para ustadz selebritis, saya hanya bisa berkata ”Maaf Saya Bukan Penggemar Ustadz favorit Anda.

Selasa, 18 September 2007

Ramadhan, Euforia atau Penjernihan

Hari ini banyak manusia berkarbonasi menjadi sosok putih nan bercahaya seakan seperti malaikat. Yah Ramadhan membuat banyak orang sementara berubah menjadi malaikat penolong dari topeng asli iblisnya yang telah menyatu dengan dirinya selama 11 bulan. Orang orang membuat image seakan dia tidak pernah berbuat bejad.
Baju-baju dan gaun-gaun muslim laku bak kacang goreng, pelacur-pelacur ditangkap, perjudian diberantas, penjual minuman keras dirazia, tempat dugem ditutup dan nuansa-nuansa erotis untuk sementara diberhentikan untuk memberikan kesempatan sejenak kepada para lelaki hidung belang untuk kembali ke pelukan istri dan anaknya. Masjid-masjid pun tak kalah ramainya dikunjungi umat sehingga masjid yang biasanya kosong melompong kini kehilangan ruang untuk bernapas, walaupun di akhir ramadhan akan sepi kembali. Al Quran yang berdebu di lemari kembali dibuka dan dibaca, walau kebanyakan dari kita tak tahu apa maksud dari ayat yang dibaca sehingga tak banyak membawa perubahan. Ramadhan memang dahsyat sehingga membuat negeri yang brengsek ini bisa menemukan jati dirinya walaupun hanya satu bulan. Jati diri bangsa yang telah hilang dimakan keserakahan serta hawa nafsu.
Walau Ramadhan hanya euforia semata sama seperti euforia nasionalisme saat 17 agustus kemarin tapi setidaknya kebrengsekan ini bisa berhenti sejenak dan mudah-mudahan orang –orang Indonesia yang mayoritas muslim bisa menjadi pribadi Taqwa seperti yang disebutkan Al Quran. Euforia ini semakin terasa apabila kita melihat stasiun televisi berlomba lomba menayangkan program ramadhan, mulai dari sinetron ramadhan, musik ramadhan, ceramah ramadhan, program sahur dan lain lain. Semua terasa basi, munafik, karena tujuannya bukan untuk perbaikan umat tapi hanya peningkatan rating yang berakibat pada meningkatnya iklan di televisi. Kalau tujuannya profit maka apa bedanya program ramadhan dengan sinetron religi yang sering ditayangkan pada bulan biasa yang cenderung naif. Secara kemasan mungkin berbau islami tapi secara isi tidak menyentuh moral bangsa indonesia yang beragama.
Ternyata masih ada saja keserakahan di bulan suci ini. Masih banyak juga orang yang menimbun barang dagangan agar harganya selangit. Lalu calo-calo tiket sudah berancang-ancang membeli tiket kereta api, kapal laut, bahkan pesawat. ”Anjing”, bangsa ini ternyata masih sama saja seperti dulu bejad. Bangsa bermental penjajah, penjajah bangsa sendiri. Kontribusi bulan ramadhan memang sudah tidak banyak merubah mental bangsa Indonesia, karena orang hanya larut dalam euforia bukan makna.
Semangat tolong menolong di bulan Ramadhan juga tidak banyak berubah dibandingkan bulan-bulan lainnya. Lihat saja saat Gempa di Sumatera kemarin apakah banyak bantuan yang mengalir? Apakah pemerintah cepat turun tangan? Mungkin presiden lebih tertarik terhadap masalah penculikan anak daripada masalah-masalah yang menyangkut hidup orang banyak. Dan hal yang lebih tidak masuk akal lagi adalah ketika pemerintah membuat peraturan daerah dimana kita dilarang memberi sedekah kepada pengemis dan membeli kepada pedagang asongan. Kalau kita melanggar maka akan didenda sebesar 5 – 15 juta.
Apa yang salah dengan pengemis dan pedagang asongan, mereka tidak banyak mengambil uang rakyat seperti Nurdin Halid, Akbar Tanjung, Soeharto, dan koruptor lainnya. Mereka menjadi seperti itu karena sistem negeri ini tidak memihak masyarakat miskin. Peraturan inipun jelas mempertegas kembali bahwa pemerintah Indonesia memang tidak memihak kepada rakyat miskin. Pejabat kita memang belum pernah menjadi pengemis dan pedagang asongan jadi buat aturan seenak udelnya. Sepertinya pemerintah kita ingin mengesankan bahwa Indonesia adalah negara maju dan tidak ada pengemis, sehingga negara-negara kapitalise barat mau menanamkan modalnya di Indonesia.
Hal yang paling tidak saya bayangkan adalah di bulan Ramadhan yang penuh berkah saja masih banyak diantara kita berserakah ria apalagi di bulan biasa lainnya. Jadi ramadhan ini apakah euforia belaka atau waktu untuk penjernihan? SEBUAH TANDA TANYA BESAR
?

NARCIST ITU CANDU

Kalau melihat friendster (Situs pertemanan paling popular pada zaman saya. Selain itu ada juga Myspace dan LiveConnector ) mau tidak mau kita dipaksa melihat jejeran foto- foto terbaik menurut si empunya. Mereka menampilkan diri mereka dalam pose terbaik, tercantik, terganteng, terseksi, bahka erotis sehingga menarik banyak perhatian orang.
Dan dengan sedikit keahlian photoshop serta kepemilikan foto foto terbaik menurut saya, saya akhirnya ikut-ikutan terjerembab dalam deretan koleksi foto ini. Muka yang pas-pasan ini saya rubah menjadi sedikit lebih putih, tanpa jerawat, dan badan sedikit dibuat langsing. Lalu apa yang saya dapat ! wanita- wanita yang entah darimana asalnya tiba-tiba nge ADD saya dan memberi komentar yang merangsang, sedangkan teman-teman dekat yang setiap hari mengenal saya apa adanya hanya komentar “Dasar Narcist”.
“Narcist”, ya kata itu yang sering saya dengar dari mereka. Sampai saat ini saya tidak tahu apa arti narcist yang sebenarnya dan darimana dia berasal. Narcist yang sering mereka katakan itu tidak ada dalam kamus bahasa inggris saya (mungkin karena kamus saya yang kurang tebal, maklum beli di emperan).
Lalu ketika teman saya membawa foto digital barunya ke kampus, saya meminjamnya untuk memfoto diri saya sendiri dengan gaya yang menurut saya paling keren. Dan kata Narcist itu terucap kembali dari mulut teman-teman saya. Dengan teori gembel saya, saya mulai berkesimpulan bahwa berfoto sendiri adalah pengertian dari Narcist. Karena setiap kita berfoto sendiri dengan gaya yang menurut saya keren saya selalu diteriaki narcist.
Berarti kita semua narcist. Mau buat KTP harus difoto sendirian, mau buat SIM, mau buat raport, mau buat pasport harus difoto sendirian. Bahkan mau ngirim CV lamaran kerja harus dilampirkan foto kita yang sendirian. Pernah lihat foto presiden dan wakilnya tergantung di dinding kelas, apakah mereka tidak Narcist? Apakah Narcist itu dosa ? dan apakah narcist itu lebih kejam dari pembunuhan seperti Ibukota lebih kejam daripada Ibu tiri. Hal ini membuat keyakinan saya bertambah bahwa negeri ini mendukung pergerakan Narcistme , orang presidennya juga narcist.
Biarlah semua orang narcist, narcist bukan dosa dan tidak merugikan banyak orang. Kalau kita tidak suka sama foto seseorang ya nggak usah diteriakin Narcist lah, lagian arti narcist sendiri juga belum jelas. Narcist adalah hak setiap orang karena setiap orang ingin menampilkan dirinya yang terbaik walaupun terkadang harus ditutupi dengan kebohongan. Narcist memang sudah menjadi candu sama seperti buku, rokok, dan segelas kopi dan juga drugs. Jadi nikmatilah kecanduan kalian akan Narcist. Tapi ngomong ngomong setelah saya membual membabi buta seperti ini saya tetap belum tahu What the Meanings of Narcist ? Ada yang bisa bantu.

KOTAK VISUAL

Kotak Visual sebuah benda yang membuat manusia menjadi lebih modern .Sebuah kotak yang didalamnya terdapat perangkat elektronik berbasis bahasa pemrograman yang rumit dan hanya orang-orang berpendidikan tinggi yang bisa membuatnya. Menjadikan manusia cepat menerima informasi tanpa dipisahkan oleh jarak dan waktu. Tapi karena kotak visual ini juga terkadang manusia lupa kodratnya sebagai makhluk sosial.
Seseorang bisa membunuh waktu sepi bersama kotak visual tapi ia juga bisa mati dengan tragis tanpa kotak visual ditangannya. Kembali lagi manusia lupa tugasnya sebagai manusia, bukan Tuhan.
Hari ini kotak visual berkembang begitu cepat, ada yang 3,5G, layar Flat, kamera10 Megapixel, casing warna-warni, akses data yang cepat hingga 8 Mbps, dan yang paling parah ada yang dihiasi berlian sebagai pernak-pernik yang tentu saja dijual dengan harga yang mahal. Kotak Visual menyebabkan manusia haus akan trend lapar akan pujian sehingga berdampak pada konsumerisme ataupun shoppaholic terhadap teknologi. Kotak visual mampu merubah kebudayaan masyarakat kita yang santun menjadi masyarakat yang keras dan individualis.
Hari ini banyak koran membicarakan kotak visual terbaru, banyak institusi pendidikan membuat jurusan teknik kotak visual untuk melengkapi kehausan manusia menjadi ahli kotak visual. Hari ini kotak visual tak hanya berbentuk kotak, tapi ia juga menjelma menjadi bulat, elips, segitiga, prisma bahkan trapesium. Semua itu semakin membenamkannya menjadi objek yang menarik dan harus dimiliki setiap orang, tak peduli bagaimana caranya ia didapatkan apakah bershoppaholic ria, berklepto ria, atau berkilling ria.
Zamanku adalah zaman kotak visual zaman yang bakal diingat olehku, olehmu, dan oleh anak cucu kita.