BLOG ini hanyalah bualan-bualan semata, tidak berorientasi pada apapun. Mencoba Menulis hanyalah sebuah eksperimen seorang yang konyol untuk merepresentasikan otaknya yang kosong.
Tampilkan postingan dengan label sedikit beragama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sedikit beragama. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Januari 2008

Tidak Ada Tuhan di Dunia Maya ?

Ketika mengunjungi situs ajaib bernama Google, iseng-iseng saya mengetikkan tiga huruf S, E dan X. Ternyata terdapat 789.000.000 situs yang menampilkan kata SEX. Kemudian di mesin pencari ajaib ini juga saya mengetikkan kata ALLAH, dan ternyata hanya terdapat 40.000.000 situs yang menampilkan kata ALLAH. Karena terkejut dengan kenyataan ini saya kemudian mengganti kata ALLAH dengan TUHAN. Tapi yang saya dapat malah semakin sedikit hanya 5.380.000 situs yang menampilkan kata TUHAN, mungkin karena secara bahasa TUHAN tidak dikenal di seluruh dunia. Oleh karena itu saya mengganti kata TUHAN dengan GOD. Dan memang hasilnya jauh lebih memuaskan dibanding dengan kata ALLAH ataupun TUHAN, terdapat sebanyak 516.000.000 situs yang menampilkan kata GOD.

Hal diatas merupakan sebuah fakta yang tidak terbantahkan, bahwa Allah, Tuhan, atau GOD yang disembah bermilyar-milyar umat manusia ternyata telah dikalahkan di dunia maya oleh sebuah kata SEX. Sungguh menyedihkan, ternyata masyarakat dunia lebih mengenal SEX daripada Tuhan. Selamat datang di dunia maya ! Yah itulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan ini semua. Dunia yang benar-benar asing dengan pembenaran dan kebebasannya masing-masing. Situs – situs yang menampilkan kata SEX memang belum tentu mencerminkan sebuah situs pornografi, tapi setidaknya untuk orang-orang awam kata SEX pasti lebih menjurus kearah porno.

Saat ini Internet sudah berubah menjadi kebutuhan mendasar masyarakat dunia. Bagaimana tidak, seseorang di belahan kutub utara bisa berkomunikasi secara cepat dengan orang-orang di kutub selatan tanpa hambatan waktu yang lama. Portal informasi dapat diakses dengan mudah dan bebas dengan biaya yang murah pula. Karena internet juga orang tidak harus pergi keluar rumah hanya untuk mengecek saldo rekeningnya, cukup duduk di depan computer yang terhubung internet semua bisa dilakukan. Dengan adanya situs pertemanan seperti Friendster atau Myspace anda tidak perlu repot-repot berjumpa dengan teman (sosialisme tatap muka tidak dibutuhkan disini). Dengan Youtube Anda tidak perlu repot-repot datang ke konser idola Anda. Dengan Napster Anda hanya tinggal memilih lagu yang Anda suka tanpa harus memiliki albumnya. Dan di e-Bay Anda bisa belanja (Wanita panggilan juga ada) sesuka hati Anda dengan menggunakan kartu kredit orang lain tentunya. Sungguh hebat dan jahat!!!

Tapi karena Internet juga orang yang terlihat baik di dunia nyata dapat menjadi beringas di dunia maya. Pornografi, Perjudian, Pembajakan, Cybercrime lainnya sudah menjadi komoditas yang biasa bahkan sangat biasa di dunia maya. Semua berjalan bebas dan terorganisir tanpa hambatan dan aturan yang jelas. Sebuah situs porno bahkan bisa di hujat habis-habisan oleh penggunanya karena kurang porno. Tidak ada tuntutan secara hukum bagi seseorang yang melakukan tindakan asusila di ruang publik Internet. Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak orang di Indonesia yang mencuri menggunakan kartu kredit curian di Internet. Gosip, memojokan orang lain, surat kaleng, menjadi hal yang sangat biasa di Internet. Aparat terlihat impoten menghadapi kejahatan di dunia maya, tidak ada UU, PP, KUHP, yang dapat memojokan pelaku tindak tidak baik ini ke meja hijau - adakah meja hijau di Internet? Adakah cyberlaw? Tampaknya tidak Ada.

Betulkah ini pertanda kiamat? Lalu betulkah Tidak Ada Tuhan Di Dunia Maya? Tuhan memang tidak bermain Friendster dan Tuhan memang tidak menciptakan dunia maya, tapi Tuhan menciptakan manusia yang membuat Dunia Maya. Jadi semua kebaikan akan dibalas kebaikan dan kejahatan dibalas dengan kejahatan, semua hanya tinggal menunggu waktu. Jadi berbuat baiklah di dunia maya, karena berbuat baik cukup mudah di dunia maya. Justru dengan adanya Internet transfer ilmu pengetahuan harus lebih intensif, sehingga tidak terbatas pada pelajaran yang diadapat di bangku sekolah atau kuliah. Dan asal kita tahu sebenarnya Tuhan sudah menciptakan Dunia Maya jauh sebelum ada Dunia yang kita anggap Nyata ini, Dunia itu tidak dikatakan Internet tapi bernama Akhirat. Dan di Akhirat situs bernama Google bukanlah situs ajaib lagi melainkan hanyalah situs sampah alias SPAM.

Selasa, 02 Oktober 2007

”Maaf Saya Bukan Penggemar Ustadz favorit Anda.

Saya selalu melihat bulan puasa adalah bulan euforia, sama seperti bulan Agustus yang menjadi euforianya nasionalisme. Saya selalu melihat kemunafikan membabi buta dan ayat-ayat Tuhan dijadikan komoditi. Komoditi yang menggiurkan seperti CPO dunia yang tak ada habis-habisnya. Maka secara hukum ekonomi banyak pemain yang terlibat di dalamnya, mereka adalah ustadz-ustadz selebritis.

Saya sudah tidak tertarik sama si Jeffry, Arifin. Dan si Gymnastiar. Begitu pun dengan ustadz-ustadz yang sering muncul di TV. Mereka semua terlalu over, membawakanayat-ayat Allah hanya untuk bahan cari popularitas. Maaf jika para pengemar ustadz-ustadz ini tersinggung, tapi saya tetap pada pendirian saya. Lalu ketika anda berfikir saya bukan islam, anda salah saya masih islam walaupun hanya Islam KTP. Tapi saya tidak sendiri, karena yang Islam KTP jumlahnya jutaan di Indonesia.

Ustadz Jeffry Al Buchori alias Uje, begitulah namanya disebut di Televisi. Ustadz gaul ini kerap muncul di sela-sela sebelum bedug maghrib, saat sahur, Iklan produk, acara-acara musik Ramadhan, pengajian rutin mingguan, wah pokoknya banyak deh. Bayangkan berapa penghasilannya sebulan, tentu sangat besar dan jauh bila dibandingkan dengan buruh kontrak seperti saya. Eksploitasi yang besar-besaran dari media lah yang membuat dia kehilangan esensi keagamaannya. Sehingga dikhawatirkan dia bukan ceramah berdasarkan agama tetapi uang.

Uje juga sering mengisahkan masa lalunya sebagai pecandu narkoba dan kemudian bertaubat menjadi ustadz. Bagus memang tapi jika terlalu di ekspos orang-orang juga bosan mendengar celoteh seperti itu. Hal yang membuat saya yakin dia sebagai selebritis adalah seringnya dia menyanyi di berbagai acara bahkan dia sudah membuat album. Dan apakah dia sadar bahwa saat dia bernyanyi-nyanyi banyak orang yang menangis kelaparan.

Ustadz Arifin Ilham, sama seperti Uje sering tampil di televisi terutama di sinetron hidayah dan acara-acara dzikir. Ustadz ini adalah ustadz yang sangat rajin berzikir, mengagungkan nama Allah dan bershalawat kepada Nabi Muhammad. Lalu apa yang salah dengan dia, jawabannya tidak ada. Saya hanya tidak suka melihat orang yang individual. Individual dalam artian terlalu sibuk berurusan dengan Tuhan sedangkan manusia-manusia disekelilingnya banyak yang menderita. Tugas manusia adalah memberikan manfaat di sekitarnya. Apakah semua urusan bisa diselesaikan dengan doa dan dzikir. Doa dan dzikir adalah obat hati, tapi ikhtiar adalah pergerakan.

Abdullah Gymnastiar a.k.a Aa Gym, seorang ulama asal Bandung yang mengajarkan kesederhanaan, kepedulian terhadap lingkungan, serta kemampuan mengelola hati. Secara prinsipal dia merangkum ajarannya dalam tema Manajemen Qalbu. Tema ini pula lah yang dia jadikan sebagai merek dagang, tapi dia lebih memilih menyingkatnya menjadi MQ. Sejalan dengan kondangnya Aa Gym, MQ pun menjadi perusahaan besar dan mempunyai berbagai macam usaha seperti MQ TV, MQ radio, MQ busana, MQ travel, MQ mini market dan masih banyak lagi.

Ajaran Aa gym menurut saya adalahajaran yang paling relevan bagi bangsa kita saat ini. Banyak warga miskin yang dia bantu untuk usaha atau bekerja sehingga tidak menjadi sampah masyarakat. Para santri pun dia latih agar menjadi santri siap guna, agar kelak si santri tidak hanya pandai mengaji tetapi juga menjadi manfaat di sekelilingnya. Sayang sekarang pamornya turun karena poligami, sebuah perbuatan yang kurang disukai di negeri ini terutama bagi kaum hawa. Media massa yang dulu mengangkat namanya kini menjatuhkannya bertubi-tubi, menegaskan bahwa media massa terutama acara Gossip adalah kadal kemunafikan. Tapi saya tidak peduli dengan poligami yang dilakukan Aa, bukan urusan yang mendesak untuk diperdebatkan sehingga melupakan masalah yang sebenarnya terjadi.

Suatu hal yang menjadi ketidak sukaan saya terhadap Aa Gym adalah karena dia terlalu dekat dengan pejabat. Sudah jelas mereka itu korup dan menyengsarakan rakyat, jadi jangan kompromisama mereka. Pejabat-pejabat itu sering mengundang ulama seperti Aa Gym untuk berceramah di tempatnya dengan iming-iming uang yang esar untuk mengalihkan perhatian ulama kepada pengajian masyarakat yang berkantung tipis. Pejabat-pejabat itu juga ingin mengesankan bahwa mereka itu dekat dengan ulama sehingga mereka bisa dicap sholeh. Dan dengan begitu angkah untuk kembali enjadi penguasa terbuka lebar.

Dosa ustadz ustadz ini tentu tidaklah sebesar dosa saya, seorang kafir yang tidak pernah menjalankan sholat hanya karena alasan miris melihat banyak orang sholat tetapi masih membunuh, memperkosa, korupsi, dan memfitnah. Ustadz-ustadz ini hanya terjebak pada eksploitasi kapitalisme televisi. Mereka menjadi produk peningkat rating sehingga banyak para pengiklan yang beriklan di stasiun TV. Para ustadz-ustadz ini cenderung menjadi sahabat para pejabat-pejabat yang jelas sering menyengsarakan rakyat. Padahal seharusnya kaum ulama dapat menjadi kaum kebenaran dan keadilan, tetapi yang terjadi mereka menjadi kelas sosial yang baru. Saya sangat rindu akan hadirnya ulama ulama seperti H. Agus Salim, dan Buya Hamka yang berani berjuang bersama rakyat. Sayangnya ustadz-ustadz yang berpengaruh saat ini sudah di plot sebagai selebritis untuk main sinetron, menyanyi, dan di gossipkan. Jadi ketika anda sudah mengidolakan para ustadz selebritis, saya hanya bisa berkata ”Maaf Saya Bukan Penggemar Ustadz favorit Anda.

Selasa, 18 September 2007

Ramadhan, Euforia atau Penjernihan

Hari ini banyak manusia berkarbonasi menjadi sosok putih nan bercahaya seakan seperti malaikat. Yah Ramadhan membuat banyak orang sementara berubah menjadi malaikat penolong dari topeng asli iblisnya yang telah menyatu dengan dirinya selama 11 bulan. Orang orang membuat image seakan dia tidak pernah berbuat bejad.
Baju-baju dan gaun-gaun muslim laku bak kacang goreng, pelacur-pelacur ditangkap, perjudian diberantas, penjual minuman keras dirazia, tempat dugem ditutup dan nuansa-nuansa erotis untuk sementara diberhentikan untuk memberikan kesempatan sejenak kepada para lelaki hidung belang untuk kembali ke pelukan istri dan anaknya. Masjid-masjid pun tak kalah ramainya dikunjungi umat sehingga masjid yang biasanya kosong melompong kini kehilangan ruang untuk bernapas, walaupun di akhir ramadhan akan sepi kembali. Al Quran yang berdebu di lemari kembali dibuka dan dibaca, walau kebanyakan dari kita tak tahu apa maksud dari ayat yang dibaca sehingga tak banyak membawa perubahan. Ramadhan memang dahsyat sehingga membuat negeri yang brengsek ini bisa menemukan jati dirinya walaupun hanya satu bulan. Jati diri bangsa yang telah hilang dimakan keserakahan serta hawa nafsu.
Walau Ramadhan hanya euforia semata sama seperti euforia nasionalisme saat 17 agustus kemarin tapi setidaknya kebrengsekan ini bisa berhenti sejenak dan mudah-mudahan orang –orang Indonesia yang mayoritas muslim bisa menjadi pribadi Taqwa seperti yang disebutkan Al Quran. Euforia ini semakin terasa apabila kita melihat stasiun televisi berlomba lomba menayangkan program ramadhan, mulai dari sinetron ramadhan, musik ramadhan, ceramah ramadhan, program sahur dan lain lain. Semua terasa basi, munafik, karena tujuannya bukan untuk perbaikan umat tapi hanya peningkatan rating yang berakibat pada meningkatnya iklan di televisi. Kalau tujuannya profit maka apa bedanya program ramadhan dengan sinetron religi yang sering ditayangkan pada bulan biasa yang cenderung naif. Secara kemasan mungkin berbau islami tapi secara isi tidak menyentuh moral bangsa indonesia yang beragama.
Ternyata masih ada saja keserakahan di bulan suci ini. Masih banyak juga orang yang menimbun barang dagangan agar harganya selangit. Lalu calo-calo tiket sudah berancang-ancang membeli tiket kereta api, kapal laut, bahkan pesawat. ”Anjing”, bangsa ini ternyata masih sama saja seperti dulu bejad. Bangsa bermental penjajah, penjajah bangsa sendiri. Kontribusi bulan ramadhan memang sudah tidak banyak merubah mental bangsa Indonesia, karena orang hanya larut dalam euforia bukan makna.
Semangat tolong menolong di bulan Ramadhan juga tidak banyak berubah dibandingkan bulan-bulan lainnya. Lihat saja saat Gempa di Sumatera kemarin apakah banyak bantuan yang mengalir? Apakah pemerintah cepat turun tangan? Mungkin presiden lebih tertarik terhadap masalah penculikan anak daripada masalah-masalah yang menyangkut hidup orang banyak. Dan hal yang lebih tidak masuk akal lagi adalah ketika pemerintah membuat peraturan daerah dimana kita dilarang memberi sedekah kepada pengemis dan membeli kepada pedagang asongan. Kalau kita melanggar maka akan didenda sebesar 5 – 15 juta.
Apa yang salah dengan pengemis dan pedagang asongan, mereka tidak banyak mengambil uang rakyat seperti Nurdin Halid, Akbar Tanjung, Soeharto, dan koruptor lainnya. Mereka menjadi seperti itu karena sistem negeri ini tidak memihak masyarakat miskin. Peraturan inipun jelas mempertegas kembali bahwa pemerintah Indonesia memang tidak memihak kepada rakyat miskin. Pejabat kita memang belum pernah menjadi pengemis dan pedagang asongan jadi buat aturan seenak udelnya. Sepertinya pemerintah kita ingin mengesankan bahwa Indonesia adalah negara maju dan tidak ada pengemis, sehingga negara-negara kapitalise barat mau menanamkan modalnya di Indonesia.
Hal yang paling tidak saya bayangkan adalah di bulan Ramadhan yang penuh berkah saja masih banyak diantara kita berserakah ria apalagi di bulan biasa lainnya. Jadi ramadhan ini apakah euforia belaka atau waktu untuk penjernihan? SEBUAH TANDA TANYA BESAR
?